RSUD Panglima Sebaya Respons Soal Kehadiran Rumah Sakit Asing di Indonesia

Foto: Direktur RSUD Panglima Sebaya, Kamal Anshari. Sumber: Istimewa.
Foto: Direktur RSUD Panglima Sebaya, Kamal Anshari. Sumber: Istimewa.

Paser, Kaltimedia.com Wacana hadirnya rumah sakit asing di Indonesia kembali menjadi perhatian setelah terbitnya Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 49 Tahun 2021 dan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 1 Tahun 2023. Kedua regulasi tersebut membuka peluang bagi Penanaman Modal Asing (PMA) untuk berinvestasi di sektor kesehatan, khususnya dalam pengelolaan rumah sakit, terutama di kawasan ekonomi khusus (KEK).

Menanggapi hal ini, Direktur RSUD Panglima Sebaya, Kamal Anshari, menyampaikan bahwa kehadiran rumah sakit asing kemungkinan besar akan lebih difokuskan di wilayah perkotaan yang memiliki potensi pasar dan daya beli yang tinggi.

“Memang sudah mulai terdengar isu mengenai rumah sakit asing. Tapi saya melihatnya, pembangunan rumah sakit seperti itu kemungkinan besar hanya akan dilakukan di kota besar. Di kabupaten seperti Paser, perlu dipertimbangkan dari sisi pasar dan potensi keuntungannya,” kata Kamal, Senin (21/7/2025).

Kamal menegaskan bahwa RSUD Panglima Sebaya sebagai rumah sakit milik pemerintah daerah memiliki tujuan utama dalam memberikan pelayanan kesehatan yang merata dan terjangkau, bukan berorientasi pada profit.

“Kami lebih mengedepankan layanan kepada masyarakat. Profit bukan tujuan utama rumah sakit daerah,” jelasnya.

Terkait potensi persaingan, Kamal menilai kehadiran rumah sakit swasta maupun asing tidak menjadi ancaman. Justru, menurutnya, ini bisa menjadi pemacu bagi rumah sakit daerah untuk terus meningkatkan kualitas layanan.

“Kalau memang nanti rumah sakit asing hadir, ya itu bisa menjadi motivasi bagi kami untuk terus memperbaiki mutu layanan. Selama persaingannya sehat, kami sangat terbuka,” katanya.

Lebih jauh, Kamal juga membuka kemungkinan kolaborasi antara RSUD Panglima Sebaya dengan rumah sakit asing apabila nantinya benar-benar hadir di Kabupaten Paser. Menurutnya, kolaborasi ini dapat dilakukan dalam bentuk layanan unggulan, rujukan medis, hingga pemanfaatan alat kesehatan yang belum dimiliki pihaknya.

“Kalau mereka punya teknologi atau layanan medis yang belum tersedia di sini, kenapa tidak kita kolaborasikan? Tujuan akhirnya tetap untuk kesehatan masyarakat Paser,” tutupnya.

Dengan pendekatan terbuka dan kolaboratif ini, RSUD Panglima Sebaya menunjukkan komitmennya untuk tetap menjadi pilar utama pelayanan kesehatan di Bumi Daya Taka, di tengah dinamika perkembangan sektor kesehatan di tingkat nasional. (dy)

Editor: Ang

Share

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *