Trump Getol Incar Mineral Langka di Ukraina, Nilainya Sampai Rp8,2 Kuadriliun

Ilustrasi mineral. Pixabay

KYIV – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menginginkan Ukraina memperbolehkan untuk mengakses cadangan mineral mereka. Sebagai gantinya, AS akan memberikan dukungan ke Ukraina untuk melawan Rusia. Pernyataan Trump itu ditentang Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky beberapa waktu lalu. Mineral tersebut diincar Trump bukan tanpa alasan. Sebab, mineral yang diklaim langka ini memiliki nilai yang cukup fantastis.

“Saya memberi tahu (Ukraina) bahwa saya menginginkan mineral langka senilai 500 miliar dollar AS (Rp 8,2 kuadriliun), dan pada dasarnya mereka setuju untuk melakukannya,” kata Trump dikutip dari Fox News. Namun, ucapan Trump disanggah Zelensky.

“Itu bukan pembicaraan serius,” kata Zelensky. “Saya tidak bisa menjual negara kita.” Usulan dari Trump ini menunjukkan pentingnya mineral tersebut bagi AS, tetapi apa tujuannya, dan apa yang dapat Ukraina tawarkan kepada AS?

“Mineral langka” adalah istilah terhadap 17 unsur yang secara kimia mirip. Unsur-unsur ini banyak digunakan dalam teknologi dan industri modern, sepoerti produksi telepon pintar, komputer, peralatan medis, dan banyak lagi. Unsur-unsur tersebut meliputi: Sc – scandium, Y – yttrium, La – lanthanum, Ce – cerium, Pr – praseodymium, Nd – neodymium, Pm – promethium, Sm – samarium, Eu – europium, Gd – gadolinium, Tb – terbium, Dy – dysprosium, Ho – holmium, Er – erbium, Tm – thulium, Yb – ytterbium, Lu – lutetium.

Mineral-mineral tersebut dikenal sebagai “langka” karena sangat jarang ditemukan dalam bentuk murni. Tetapi materi tersebut dapat ditemukan dalam bentuk endapan di beberapa tempat di seluruh dunia. Namun, mineral langka sering ditemukan bersama unsur-unsur radioaktif, seperti thorium dan uranium. Memisahkannya memerlukan banyak bahan kimia beracun, yang membuat proses ekstraksi terkadang sulit dan mahal.

Berdasarkan laporan Forbes Ukraina menyebut sekitar 70 persen di antaranya berada di wilayah Donetsk, Dnipropetrovsk, dan Luhansk. Banyak di antaranya masuk ke wilayah yang masih diduduki Rusia.

Mineral kritis lainnya ini, salah satunya adalah litium. Menurut Pemerintah Ukraina, negeri itu memiliki sekitar 450.000 ton cadangan litium. Cadangan tersebut belum ditambang meskipun sudah ada rencana untuk memulainya. Rusia telah menduduki sedikitnya dua deposit litium: Shevchenkivske di wilayah Donetsk dan deposit bijih kompleks di Kruta Balka di wilayah Berdyansk.

Sementara, deposit bijih litium di wilayah Kirovohrad tetap berada di bawah kendali Ukraina. Mengapa Trump menginginkan mineral ini? Persaingan dengan China menjadi penyebab AS berkepentingan mengendalikan produksi mineral tanah jarang dan mineral kritis lainnya. Pasalnya, kini China mendominasi pasokan global.

Selama beberapa dekade terakhir, China menjadi pemimpin penambangan dan pemrosesan mineral mineral langka, yang mencakup 60 persen-70 persen produksi global dan hampir 90 persen kapasitas pemrosesan mineral.

Ketergantungan AS pada China dalam hal ini diduga mengkhawatirkan pemerintahan Trump, baik dalam hal keamanan nasional maupun ekonomi. Pasalnya, bahan-bahan ini diperlukan untuk produksi teknologi super canggih, mulai dari mobil listrik hingga peralatan militer. (pry)


Share

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *