
Samarinda – Kelangkaan pasokan Gas elpiji 3 kg membuat masyarakat cukup kerepotan, hingga akhirnya banyak yang melakukan pembelian dalam jumlah yang banyak atau ‘panic buying’ membeli gas lebih dari 2 tabung gas. Atas fenomena ini pun membuat proses distribusi menjadi terganggu.
Ketua Komisi II DPRD Kota Samarinda, Iswandi menyebut, nerdasarkan dari data Pertamina yang didapat, alokasi elpiji 3 kg untuk Samarinda di tahun 2025 tak jauh beda dengan angka di tahun 2024 lalu, yakni sekitar 9,8 juta tabung.
Menurutnya pasokan ini bakal cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat kurang mampu dan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang berhak menerima subsidi. Tapi kenyataannya, di lapangan tidak seperti yang diharapkannya.
“Kita melihat banyak yang tidak seharusnya menggunakan gas subsidi malah ikut antre. Akibatnya, masyarakat yang benar-benar berhak justru kesulitan mendapatkannya,” katanya Iswandi, Selasa (18/2).
Iswandi juga menerangkan, pendistribusian elpiji 3 kg yanh tidak seimbang mengharuskan warga untuk mencari ke tempat lain, bahkan ada yang sampai berkeliling antar kecamatan karena banyak pangkalan yang kehabisan stok.
Atas fenomena ini pun menimbulkan harga yang melambung tinggi dari harga yang ditetapkan sebelumnya saat pengecer menjualnya.
“Kita perlu mekanisme yang lebih jelas, misalnya memastikan setiap lima RT memiliki satu pangkalan agar warga tidak perlu jauh-jauh mencari gas. Jika tidak diatasi, harga akan terus naik dan membebani masyarakat,” ujarnya.
Oleh karena itu, Komisi II DPRD Samarinda akan segera berkoordinasi dengan Dinas Perdagangan (Disdag) dan instansi terkait untuk membahas solusi yang lebih efektif dan konkret.
“Kami akan merinci masalah utama dan menyusun langkah penyelesaiannya. Ini harus segera dituntaskan,” ucap Iswandi. (Adv/dy)





