Tradisi Pengadukan Uang Panai Warnai Pernikahan Anak Wali Kota Balikpapan Rahmad Mas’ud

Wali Kota Balikpapan Rahmad Mas’ud resmi putri sulungnya Cindara Rahmad dengan Abdurahman, di Hotel Gran Senyiur, Balikpapan, Kalimantan Timur. (Sumber foto: YouTuber/Cindara Rahmad)

BALIKPAPAN – Wali Kota Balikpapan Rahmad Mas’ud menikahkan putri sulungnya Cindara Rahmad dengan Abdurahman.

Keduanya resmi menikah usai melangsungkan akad nikah di Hotel Gran Senyiur, Balikpapan, Kalimantan Timur, Kamis (12/12).

Panggung pelaminan mengusung konsep modern nan megah.

Terlihat latar rangkaian bunga tone color, senada cantik dengan perpaduan dekor pelaminan berwarna dasar kuning keemasan.

Pernikahan antara Cindara dan Abdu ini menjadi sorotan di kalangan keluarga dan kerabat.  Tak hanya keindahan acara, melainkan juga karena penuh dengan makna spiritual dan tradisi yang mendalam.

Acara pernikahan ini mengusung adat dan budaya yang telah turun-temurun dijaga, menjadikannya momen yang penuh haru, doa dan rasa syukur.

Prosesi adat yakni tradisi pengadukan uang panai yang dilakukan oleh ibunda kedua mempelai dan keluarga dekat.

Di hadapan penghulu, Kepala KUA Balikpapan Barat, Murtafin, akad nikah diucapkan dengan penuh khidmat. 

Dengan mahar 1.212 Riyal atau sekitar Rp5,142 juta, suara Rahmad Mas’ud terdengar bergetar saat membacakan ijab kabul. Di dampingi para saksi Ustadz Das’ad Latif, Gus Muwafiq, Hasanuddin Mas’ud, dan Habib Husein Bin Taufik Al Habsy.

“Jagalah anak saya, Cindara binti Rahmad, dia adalah anak kesayangan kami sekeluarga. Ajarilah dia, nasihatilah dia, sayangilah dia sebagaimana engkau menyayangi kedua orang tuamu,” ujar Rahmad dengan suara penuh haru.

Sebelum akad, Abdu membacakan ayat suci Al-Qur’an dengan penuh khusyuk.

“Ananda Abdurahman bin muhammad idrus al habsy, saya nikahkan, saya kawinkan anak kandung saya yang bernama Cindara Rahmad kepada engkau dengan maskawin 1.212 Rial, tunai,” tegas Rahmad Mas’ud, yang sontak diikuti sorakan ‘Sah!’ dari tamu undangan.

Acara berlanjut dengan tradisi lainnya, seperti upacara mappasikarawa atau batal wudhu. Pintu kamar Cindara hanya dibuka setelah Abdu berhasil memenuhi permintaan yang diajukan oleh keluarga yang menjaga Cindara.

Pernikahan ini diakhiri dengan prosesi sungkem dari kedua mempelai kepada orang tua masing-masing.

Sebuah ungkapan penghormatan dan rasa syukur yang mendalam turut diuraikan Rahmad Masud dalam sambutannya.

“Dalam menyaksikan hari yang sangat sakral, berat bagi saya melepaskan anak pertama saya. Saya titip dan saya lepas putri saya kepada engkau, binalah dia, tegurlah dia, dan nasihati dia. Kau sakiti, kau kecewakan dia, berarti kau sakiti keluarga besar kami,” tuturnya.

Acara dilanjutkan dengan sesi foto bersama, untuk mengabadikan momen bahagia pernikahan Cindara dan Abdu. (pry)

Share

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *