Kick Off Bulan Inklusi Keuangan, Pesan OJK Dampak Buruk Pinjol dan Paylater untuk Generasi Muda

Kick off Bulan Inklusi Keuangan dari Balikpapan

BALIKPAPAN – Kick off kegiatan Bulan Inklusi Keuangan (BIK) berlangsung di Pentacity Balikpapan, Sabtu (5/01/2024). Hal ini juga menjadi rangkaian kegiatan dalam FinExpo 2024 yang berlangsung sejak 3-6 Oktober 2024 esok.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar menyebut kick off di Balikpapan ini menjadi salah satu penguatan basis di luar pulau Jawa.

“Kita ingin memperkuat basis di luar Jawa dan menyongsong IKN,” kata Mahendra di depan hadirin para pemimpin komunitas keuangan di Indonesia.

IKN atau Ibu Kota Nusantara sekarang hanya berjarak lebih kurang 60 menit dari Balikpapan, melalui jalan tol yang baru diresmikan Presiden Joko Widodo menjelang peringatan 79 tahun kemerdekaan Agustus lalu.

Ia melanjutkan, pemilihan Balikpapan sebagai tempat awal gelaran Bulan Inklusi Keuangan untuk mengingatkan bahwa ada pusat-pusat pertumbuhan baru dari yang selama ini dikenal seperti di Jawa dan Sumatera.

“Agar literasi keuangan tersebar luas untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional,” kata Mahendra lagi.

Sementara itu, di waktu yang sama OJK merespons terhadap gaya hidup generasi muda yang konsumtif. Dengan gaya hidup tersebut ditakutkan generasi muda akan kesulitan memiliki rumah atau tabungan di masa yang akan datang.

Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi dan Perlindungan Konsumen Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi menilai, perilaku juga mempengaruhi jebloknya catatan keuangan Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK).

Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi dan Perlindungan Konsumen Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi beri keterangan ke awak media usai hadiri Komitmen implementasi gerakan nasional cerdas keuangan (GENCARKAN) Provinsi Kalimantan Timur di atrium Pentacity Balikpapan, Sabtu (5/10/2024). Kaltimedia/Pry

“Banyak orang-orang yang gagal dan hancur karena tidak bisa mengelola keuangan dengan baik,” katanya saat mengisi acara Literasi Keuangan Indonesia Terdepan (Like It), di Pentacity & E-Walk Mall Balikpapan, Sabtu (5/10).

Menurut dia, banyak anak muda yang memiliki catatan buruk SLIK. Hal itu dikarenakan mereka tidak sanggup membayar tagihan pinjaman online atau paylater. Dengan kondisi itu membuat generasi muda kesulitan mengajukan kredit kepemilikan rumah (KPR) ke bank.

Kondisi ini juga semakin diperparah dengan banyaknya catatan SLIK bagi anak muda yang masih baru lulus kuliah. Bahkan fenomena kemudahan dalam paylater membuat generasi muda tergiur untuk belanja menggunakan paylater atau pinjol.

Bahkan buruknya SLIK akan sulit generasi muda dalam mencari pekerjaan.“Karena semua akan ada catatan masing-masing. Adik-adik harus bertanggung jawab karena akan melekat kemana pun kalian pergi,” pungkasnya. (pry)

Share

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *