
BALIKPAPAN – Penyakit hepatitis akut misterius belakangan menyerang anak-anak. Tentu saja hal ini patut diwaspadai oleh orang tua.
Bahkan diketahui saat ini hepatitis akut diduga sudah masuk Kaltim. Hal itu diketahui usai juru bicara Kementerian Kesehatan RI Siti Nadia Tarmizi mengonfirmasi dua kasus kematian baru diduga hepatitis misterius per Kamis (12/5/2022) kemarin yang salah satunya berasal dari Kaltim, anak berusia di bawah 10 tahun.
Terkait hal itu rupanya dibenarkan oleh Plt Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur, Masitah. Kasusnya terjadi di Kota Samarinda.
Namun, Masitah menegaskan jika itu masih dugaan.
“Benar apa yang diumumkan Kemenkes. Salah satu kasus di Kaltim, tepatnya di Kota Samarinda. Tapi masih dugaan,” kata Masitah melalui sambungan telepon, Jumat (13/5/2022).
Korban diketahui berusia di bawah 10 tahun. Sempat dirawat di salah satu rumah sakit di Kota Samarinda.
Penanganannya pun sesuai dengan SOP rumah sakit.
“Sempat dirawat. Meninggalnya itu satu hari setelah Lebaran,” ungkapnya.
Sebelumnya, Kementerian Kesehatan menerbitkan surat edaran tentang Kewaspadaan Terhadap Penemuan Kasus Hepatitis Akut yang belum diketahui penyebabnya. Dalam surat tersebut, pemerintah daerah diminta memantau dan melaporkan kasus syndrome jaundince akut ke Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR).
Kemudian meminta rumah sakit melakukan hospital record review kasus hepatitis akut misterius. Surat ini disebut sebagai tindak lanjut dari kematian tiga anak di Jakarta yang diduga terjangkit hepatitis akut misterius.
Masitah sendiri menyebut telah meneruskan surat edaran tersebut ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota serta ke seluruh rumah sakit yang ada di wilayah Kalimantan Timur.
“Semua melakukan penanganan dan mengisi form survai kewaspadaan dini dan mengirimkan ke kementerian. Selanjutnya divalidasi oleh kementrian apakah ini kasus hepatitis akut yang tidak diketahui penyebabnya atau tidak,” jelasnya.
Pencegahan dini lainnya juga dengan mengedukasi masyarakat melalui media promosi supaya lebih waspada, dan yang paling penting masyarakat diminta untuk tidak panik.
“Masyarakat juga bisa mengakses laman resmi Dinkes, kita perkenalkan kasus ini dan bagaimana mencegahnya,” serunya. (pcm)





