
SAMARINDA – DPC GMNI Kota Samarinda menggelar aksi damai di depan Balai Kota pada Senin (20/3/2022). Aksi yang diikuti puluhan masa tersebut menanggapi terkait kelangkaan dan kenaikan harga minyak goreng yang terjadi belakangan ini.
“Kita ketahui beberapa waktu ini, telah terjadi fenomena kelangkaan dan kenaikan harga minyak goreng. Hal ini disebabkan oleh kebijakan pemerintah yang mengembalikan harga minyak goreng ke harga pasar dengan mencabut kebijakan HET (Harga Eceran Tertinggi) dan juga minyak goreng kemasan dan akibatnya tidak ada lagi standar harga yang menjadi patokan pasar dalam melakukan transaksi jual-beli kepada konsumen. Juga berimbas kepada terjadinya kelangkaan sehingga mengakibatkan harga minyak goreng melambung tinggi,” jelas Ketua DPC GMNI Samarinda, Richardo Nanga Wara.
Menurut mereka, imbas kebijakan tersebut membuat lapisan masyarakat menengah kebawah sulit memperoleh ketersediaan minyak goreng untuk kebutuhan primer. Sehingga timbul clash diantara masyarakat itu sendiri.
Belum lagi oknum yang tidak bertanggung jawab yang melakukan penimbunan.
“Kaltim ini merupakan salah satu produksi penghasil minyak sawit terbesar, 95 perusahaan sawit beroperasi di Kaltim. Jadi sebuah kontradiksi mengapa Kaltim bisa berimbas kenaikan dan kelangkaan Minyak Goreng tersebut,” sebutnya.
Jelasnya lagi, pihaknya juga sudah melakukan survei dan merespon adanya kelangkaan dan kenaikan harga minyak khususnya di wilayah Kota Samarinda, dengan melakukan pendataan di-11 Pasar Tradisional Kota Samarinda. Selain itu juga telah melakukan survei di Kecamatan Samarinda Ulu.
“Berdasarkan hasil Survei pada 14-17 Maret 2022, yang mengambil Sampel penelitian Pedagang dan Pembeli Minyak Goreng. Mayoritas pedagang mengeluhkan adanya fenomena kelangkaan dan kenaikan harga, karena menganggu stabilitas harga maupun supply,” serunya.
Karenanya, dalam aksi tersebut selain GMNI Samarinda juga memberikan hasil survei dan berharap Pemkot Samarinda bisa mengatasi permasalahan kelangkaan minyak serta menindak oknum yang bermain didalam kesulitan masyarakat tersebut.
“Karenanya kami mendesak Pemkot Samarinda mengawal stabilitas harga dan ketersediaan minyak goreng di kota Samarinda. Serta menindak tegas oknum yang melakukan praktik penimbunan minyak goreng di Kota Samarinda,” seru Ricardo.
Rombongan mahasiswa tersebut juga ditemui langsung oleh Wali Kota Samarinda, Andi Harun. Andi Harun pun mengapresiasi aksi GMNI dan berkomitmen untuk menyelesaikan permasalahan minyak goreng di Kota Tepian. (ar)





