
Ketua LPMPP Universitas Mulawarman, Hamdi Mayulu (tengah) Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian (tengah), dan Wakil Rektor IV Universitas Mulawarman, Nataniel Dengen (kiri). Sumber: Kaltimedia.com
Samarinda, Kaltimedia.com – Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, mengeluarkan dorongan keras bagi Universitas Mulawarman (Unmul) untuk segera meningkatkan status Jurusan Peternakan menjadi Fakultas Peternakan. Langkah ini dianggap mendesak sebagai fondasi strategis dalam mendukung ketahanan pangan di Kalimantan Timur (Kaltim), khususnya sebagai penyangga utama Ibu Kota Nusantara (IKN).
Pernyataan ini dilontarkan Hetifah saat menjadi keynote speaker dalam Seminar Nasional bertajuk “Zero Waste Peternakan” di Hotel Fugo Samarinda, Sabtu (6/6/2026).
Peternakan Kaltim Masih “Impor”
Hetifah menyoroti paradoks peternakan di Kaltim. Meski permintaan daging sapi terus melonjak, produksi lokal masih jauh dari kata cukup. Selama ini, kebutuhan daging masih sangat bergantung pada pasokan dari luar daerah.
“Tantangan kita bukan cuma soal lahan. Kita butuh tenaga ahli, peneliti, dan inovasi yang paham betul karakter lokal Kaltim. Investasi peternakan modern itu kuncinya ada di pendidikan tinggi,” tegas politisi senior asal Kaltim ini.
Menurutnya, konsep zero waste atau peternakan minim limbah yang dibahas dalam seminar tersebut adalah langkah awal yang cerdas. Limbah peternakan nantinya tak lagi menjadi beban lingkungan, melainkan bisa disulap jadi pupuk organik hingga sumber energi terbarukan.
Unmul Siap Bergerak
Gayung bersambut, Dekan Fakultas Pertanian Unmul, Fahrunsyah, mengakui bahwa rencana peningkatan status menjadi Fakultas Peternakan memang sudah masuk dalam radar pimpinan kampus.
“Secara SDM, kami sudah sangat siap. Dosen-dosen kami, dari gelar profesor hingga doktor, sudah berkecimpung dalam riset peternakan yang bekerjasama dengan Pemda maupun swasta. Kami siap jadi motor penggerak jika disahkan nanti,” ujar Fahrunsyah.
Ia juga menekankan pentingnya integrasi sistem “ternak menetap” yang dikawinkan dengan sektor pertanian. Misalnya, pemanfaatan limbah sawit dan jerami sebagai pakan, serta pemanfaatan kotoran ternak sebagai pupuk organik untuk tanaman pangan jagung.
Fokus pada Kemandirian
Di sisi lain, Wakil Rektor IV Unmul, Nataniel Dengen, mengingatkan pentingnya meniru kemandirian pangan negara maju seperti Cina. Kuncinya adalah penguatan inovasi di tingkat lokal agar tidak mudah goyah oleh fluktuasi ekonomi global.
“Kita punya potensi besar. Dengan dukungan riset yang terarah dari kampus dan BRIN, serta kolaborasi dengan pemerintah daerah seperti di Kukar dan Paser yang sudah mulai serius menggarap sentra peternakan, saya optimistis Kaltim bisa mandiri,” imbuh Nataniel.
Senada, Kepala BRIDA Kaltim, Fitriansyah, mengonfirmasi bahwa saat ini pihaknya terus mematangkan riset pakan ternak sebagai upaya nyata memperkuat ketahanan pangan daerah.
“Kami berterima kasih kepada Bu Hetifah yang terus mengawal penguatan SDM IPTEK di Kaltim. Ini adalah investasi jangka panjang untuk kedaulatan pangan kita,” pungkas Fitriansyah. (Ang)



