
Iran, Kaltimedia.com – Israel mengklaim telah menewaskan Menteri Intelijen Iran, Esmail Khatib, dalam serangan terbaru yang menyasar elit kepemimpinan Iran.
Pernyataan ini disampaikan setelah sebelumnya Israel juga mengklaim menewaskan pejabat tinggi Iran, Ali Larijani, menandai eskalasi konflik yang semakin meluas.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menegaskan bahwa pihaknya membuka peluang lebih luas bagi militer untuk menargetkan pejabat tinggi Iran.
“Tidak seorang pun di Iran memiliki kekebalan dan semua berada dalam target,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa Perdana Menteri Benjamin Netanyahu bersama dirinya telah memberi kewenangan kepada militer untuk melakukan penindakan tanpa perlu persetujuan tambahan dalam setiap operasi.
Selain ke Iran, Israel juga meningkatkan serangan ke Lebanon, termasuk menggempur ibu kota Beirut.
Serangan udara menghantam distrik Bachoura dan menyebabkan bangunan apartemen hancur. Otoritas setempat melaporkan sedikitnya 10 orang tewas di beberapa distrik pusat.
Seorang warga, Abu Khalil, menyebut serangan tersebut menimbulkan ketakutan besar di kalangan masyarakat sipil.
Sebagai respons, Iran meluncurkan serangan rudal ke wilayah Israel, termasuk kota Tel Aviv, Haifa, dan Beersheba.
Serangan tersebut dilaporkan menewaskan sedikitnya dua orang di sekitar Tel Aviv.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, menegaskan bahwa sistem pemerintahan Iran tidak bergantung pada satu individu, merespons kematian pejabat tinggi negaranya.
Konflik yang telah berlangsung hampir tiga pekan ini belum menunjukkan tanda mereda. Ketegangan bahkan berdampak pada pasokan energi global, terutama di jalur strategis Selat Hormuz.
Sebagian jalur distribusi minyak dan gas dunia dilaporkan terganggu, memicu lonjakan harga energi, termasuk di Amerika Serikat.
Presiden AS, Donald Trump, turut menghadapi tekanan politik akibat kenaikan harga bahan bakar yang signifikan.
Kelompok pemantau HAM HRANA memperkirakan lebih dari 3.000 orang tewas di Iran sejak konflik memuncak akhir Februari.
Di Lebanon, sekitar 900 orang dilaporkan meninggal dunia dan ratusan ribu lainnya mengungsi. Sementara itu, korban jiwa juga tercatat di Irak, kawasan Teluk, serta sedikitnya 14 orang di Israel.
Di tengah situasi yang semakin memanas, pemimpin Iran, Mojtaba Khamenei, dilaporkan menolak berbagai upaya de-eskalasi.
Sementara itu, IAEA menyerukan penahanan diri maksimal, terutama setelah proyektil dilaporkan jatuh di dekat fasilitas nuklir Bushehr.
Israel dan Amerika Serikat menyatakan tujuan utama operasi militer adalah menghentikan program nuklir dan kemampuan militer Iran. Namun hingga kini, konflik masih terus berlanjut tanpa tanda-tanda mereda. (Ang)



