Dea Lipa Lombok Ungkap Dirinya Bukan Sister Hong

Gambar saat ini: Foto: Dea Lipa Lombok. Sumber: Istimewa.
Foto: Dea Lipa Lombok. Sumber: Istimewa.

Lombok, Kaltimedia.com — Sosok Deni Apriadi Rahman, atau yang dikenal dengan nama panggung Dea Lipa, kembali menjadi perhatian publik setelah penampilannya yang feminin membuatnya dijuluki warganet sebagai “Sister Hong Lombok”. Sebutan itu muncul karena kemiripan dengan kasus viral di China yang melibatkan seorang pria dikenal sebagai Sister Hong, yang menyamar sebagai perempuan dan melakukan penipuan seksual terhadap ratusan pria.

Kasus di China tersebut menghebohkan publik setelah pelakunya, pria bermarga Jiao, ditangkap aparat di Nanjing pada 5 Juli 2025. Namun Deni tegas membantah jika dirinya memiliki motif serupa. Ia menolak keras penyematan julukan itu dan menyatakan penampilannya bukan untuk menjebak siapa pun.

Dilansir dari detikcom, Deni mengungkap perjalanan hidup yang jauh dari kata mudah. Ia tumbuh dalam keluarga tidak utuh dan sejak kecil diasuh oleh nenek dari pihak ibu karena kedua orang tuanya bekerja sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI) di luar negeri.

“Sejak kecil saya tinggal bersama nenek dari pihak ibu, karena kedua orang tua saya bekerja sebagai tenaga migran,” ujarnya.

Deni juga menceritakan bahwa ia lahir dengan gangguan pendengaran. Kondisinya semakin memburuk ketika ia mengalami kecelakaan pada usia 10 tahun.

“Sejak kecil saya hidup dengan keterbatasan pendengaran, yang semakin memburuk setelah saya mengalami kecelakaan ketika berusia sekitar 10 tahun,” katanya.

Masa sekolah tidak berjalan mulus. Ia kerap menjadi korban perundungan, hingga akhirnya memutuskan berhenti sekolah setelah menamatkan pendidikan dasar. Situasinya kian berat ketika sang nenek meninggal dunia saat ia duduk di kelas 6 SD.

“Saya hanya menamatkan pendidikan sampai Sekolah Dasar karena pada masa itu saya mengalami perundungan dan tidak memiliki cukup dukungan untuk melanjutkan sekolah,” ungkapnya.

Meski memiliki keterbatasan, Deni tetap berusaha bertahan hidup. Ia belajar merias wajah secara otodidak melalui YouTube hingga akhirnya bekerja sebagai make-up artist (MUA). Profesi itu, menurutnya, bukan sekadar penghasilan, tetapi juga ruang untuk mengekspresikan diri.

“Melalui pekerjaan (MUA) inilah saya merasa bisa berdiri di atas kaki saya sendiri, memenuhi kebutuhan hidup, dan perlahan memperoleh rasa percaya diri,” tuturnya.

Soal beberapa foto dirinya yang beredar saat mengenakan hijab, Deni tidak membantah. Ia mengaku memilih mengenakan hijab karena menyukai filosofi di baliknya.

“Saya menyadari bahwa saya memang pernah menggunakan jilbab. Bagi saya, jilbab itu simbol kecantikan, kelembutan, dan kehormatan,” jelasnya.

Deni berharap publik tidak lagi mengaitkan dirinya dengan kasus Sister Hong di China. Ia menegaskan bahwa kehidupannya kini adalah hasil dari perjuangan panjang dan upayanya membangun kembali kepercayaan diri setelah masa kecil yang penuh tantangan. (Ang)

Share

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *