
Samarinda, Kaltimedia.com — Direktur Utama PT Bara Kaltim Sejahtera (BKS), Nidya Listyono, menegaskan komitmennya untuk meningkatkan kontribusi perusahaan terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kalimantan Timur secara signifikan.
BUMD yang kini berstatus Perseroan Terbatas (PT) itu menargetkan peningkatan setoran PAD hingga 70 persen dari total pendapatan perusahaan, naik tajam dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di kisaran 55 persen.
“Pemerintah meminta kontribusi naik menjadi 70 persen. Kalau dihitung, nilainya berkisar antara Rp26 hingga Rp29 miliar,” ujar Nidya, Senin (3/11/2025).
Menariknya, target ambisius tersebut ditetapkan tanpa adanya permintaan tambahan modal dari Pemerintah Provinsi Kaltim.
Nidya menegaskan, kondisi finansial internal PT BKS saat ini dinilai cukup kuat untuk menopang ekspansi bisnis tanpa membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
“Kalau kami tidak perlu tambahan modal, artinya kemampuan keuangan di BKS sudah sangat memadai. Kami cukup menggunakan modal sendiri untuk pengembangan bisnis,” tegasnya.
Selama ini, sumber utama pendapatan PT BKS berasal dari kepemilikan 20 persen saham di PT Mahakam Sumber Jaya (MSJ). Dari dividen tersebut, perusahaan memperoleh rata-rata pendapatan Rp70–80 miliar per tahun.
Namun, Nidya menilai BKS tidak boleh terus bergantung pada pendapatan pasif dari dividen.
“Pendapatan itu sifatnya masih pasif. Tapi ke depan, BKS harus punya unit usaha aktif yang menghasilkan secara langsung,” ujarnya.
Untuk itu, manajemen tengah menyiapkan sejumlah langkah strategis agar BKS dapat memiliki unit usaha aktif sendiri, termasuk rencana untuk mengantongi Izin Usaha Pertambangan (IUP) serta mengembangkan bisnis di sektor hilir pertambangan.
“Kalau nanti sudah punya lahan dan IUP, potensi keuntungannya akan jauh lebih besar. Termasuk peluang dari pengangkutan, penjualan, dan perdagangan batubara,” jelas Nidya.
Ia menambahkan, tantangan utama BKS saat ini adalah bagaimana bertransformasi dari perusahaan penerima dividen menjadi entitas bisnis daerah yang mandiri dan produktif.
“Selama ini kita baru di posisi ‘belum bekerja’ karena hanya menerima dividen. Tapi ke depan, Barakal (BKS) harus punya unit-unit bisnis baru yang benar-benar bergerak,” pungkasnya. (Rfh)
Editor: Ang



