
SAMARINDA – Ketersediaan beras premium di Kalimantan Timur (Kaltim) belakangan mengalami kendala.
Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM (Disperindagkop UKM) Kaltim, Heni Purwaningsih, mengungkapkan sebagian besar beras yang beredar dan dikonsumsi masyarakat sebenarnya bukanlah beras premium murni, melainkan beras medium yang dipasarkan dengan label premium.
Heni menjelaskan, situasi ini terjadi karena pasokan beras premium dari Jawa Timur dan Sulawesi Selatan tidak lancar.
Produsen dan pemegang merek beras premium saat ini tengah menyesuaikan kualitas produk agar sesuai dengan standar pemerintah.
Penyesuaian ini membuat peredaran beras premium yang sesungguhnya menjadi terbatas.
“Produsen dan distributor tampaknya berhati-hati. Mereka sedang menyesuaikan kualitas beras agar tidak menyalahi aturan. Kekhawatiran mereka adalah terkena sanksi dari Satgas Pangan bila beras premium yang dijual tidak memenuhi ketentuan,” ujar Heni pada Sabtu (23/8/2025).
Ia menambahkan, kondisi ini diharapkan tidak berlangsung lama. Jika proses penyesuaian kualitas selesai, distribusi beras premium diperkirakan kembali normal.
“Harapan kami pasokan bisa segera lancar sehingga kebutuhan masyarakat terhadap beras premium dapat terpenuhi,” imbuhnya.
Menindaklanjuti laporan dari Disperindagkop UKM, Bulog Samarinda, dan para distributor, Gubernur Kaltim, Rudy Mas’ud, langsung memberikan instruksi khusus.
Ia meminta Bulog bersama dinas terkait segera menyalurkan beras ke daerah yang mulai mengalami kekurangan, terutama di kota-kota besar seperti Balikpapan, Samarinda, dan Bontang.
“Tidak boleh ada pasar maupun ritel modern yang sampai kehabisan stok beras. Masyarakat harus tetap mudah mendapatkan beras, baik premium maupun medium,” tegas Rudy.
Dengan langkah cepat pemerintah daerah dan Bulog, diharapkan kestabilan pasokan serta harga beras di Kaltim dapat segera terjaga, sehingga masyarakat tidak lagi mengalami kesulitan dalam memperoleh bahan pokok utama tersebut. (Rfh)





