DP2PA Samarinda Edukasi Siswa SMKN 12 Soal Pencegahan Kekerasan dan Pernikahan Anak

Foto: , Endro S. Efendi praktisi hipnoterapi dan aktivis perlindungan anak saat memberikan materi. Sumber: Istimewa.
Foto: , Endro S. Efendi praktisi hipnoterapi dan aktivis perlindungan anak saat memberikan materi. Sumber: Istimewa.

Samarinda, Kaltimedia.com – Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2PA) Kota Samarinda terus memperkuat edukasi mengenai pencegahan kekerasan dan pernikahan anak melalui sosialisasi di SMKN 12 Samarinda, Senin (22/7/2025).

Kegiatan ini dibuka langsung oleh Kepala DP2PA Samarinda, Dr. Ibnu Araby, M.M.Pd., didampingi Kabid Perlindungan Perempuan, Awe Ului, S.KM., M.Kes, serta staf dan mahasiswa magang.

Dalam sambutannya, Dr. Ibnu Araby menekankan bahwa perlindungan anak adalah tanggung jawab bersama. Ia menyebut, kasus kekerasan terhadap anak di Samarinda masih tinggi, meskipun berbagai upaya telah dilakukan pemerintah.

“DP2PA mencatat 126 kasus kekerasan anak. Rata-rata pelaku adalah orang dekat. Ini menunjukkan pentingnya peran keluarga dalam pengasuhan dan perlindungan,” ujarnya.

Ia juga menyoroti tingginya angka pernikahan anak, yang seringkali dipicu oleh kehamilan tidak diinginkan dan tekanan ekonomi.

“Menikah di usia muda meningkatkan risiko KDRT, stunting, hingga tekanan psikologis. Edukasi menjadi kunci pencegahan,” tegasnya.

Kepala SMKN 12 Samarinda, Dr. Drs. Prianto, S.Pd., menyambut baik kegiatan ini dan mengakui bahwa permasalahan kekerasan di kalangan siswa masih kerap terjadi.

“Kami sangat terbantu dengan kegiatan ini. Meski belum memiliki aula, kami tetap antusias karena ini menyangkut masa depan siswa kami,” tuturnya.

Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber, yakni, Endro S. Efendi praktisi hipnoterapi dan aktivis perlindungan anak, Siti Aminah pemerhati kesehatan masyarakat yang fokus pada isu perempuan dan anak.

Keduanya menyampaikan materi tentang kekerasan berbasis gender, dampak pernikahan dini, serta peran remaja dalam menjaga diri dan sesama.

DP2PA berharap kegiatan ini menjadi bagian dari gerakan edukasi berkelanjutan yang melibatkan sekolah-sekolah lain.

“Ini bukan hanya tugas pemerintah. Orang tua, guru, dan masyarakat harus bersama-sama menciptakan lingkungan yang aman dan sehat bagi tumbuh kembang anak,” tutup Dr. Ibnu Araby. (En)

Editor: Ang

Share

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *