
SAMARINDA – Samarinda menjadi kota yang ke-7 dalam program yang digelar oleh KONI Kaltim, yakni pelatihan pelatih fisik level 1 nasional. Di mana pelatihan yang berjalan dari tanggal 10-13 Mei 2025 itu, diikuti sebanyak 65 peserta di Ruang Rapat KONI Kaltim, Samarinda.
Setelah ini pun KONI Kaltim akan berkoordinasi dengan 3 KONI kabupaten/kita yang belum melaksanakan pelatihan tersebut, yakni Balikpapan, Kutai Barat dan Mahakam Ulu.
Ketua Panitia Pelaksana Pelatihan Pelatih Fisik, Ego Arifin mengatakan, Samarinda sendiri awalnya dijadwalkan menjadi kota pertama yang menggelar kegiatan tersebut, namun karena adanya hal non teknis sehingga baru sekarang.
Namun, sebelum ke kabupaten/kota, terlebih dahulu melaksanakan kegiatan ini kepada Pengprov cabor sebanyak 2 kloter. Sehingga berdasarkan database KONI Kaltim, kini sudah tercatat mencetak sebanyak 550 orang, dari targetan 1000 pelatih fisik.
Ego menerangkan, narasumber yang memberikan materi sekaligus menguji kemampuan peserta pelatihan pelatih fisik, nantinya akan menilai secara keseluruhan jika sudah terpenuhi semua di 10 kabupaten/kota.
Penilaian ini akan mengambil 10 pelatih terbaik dengan nilai tertinggi, kemudian bakal diikutkan dalam pelatihan pelatih fisik level 2 nasional.
“Setelah pelatihan ini semua daerah selesai, nanti rangking 1-10, kita lihat untuk bisa kita naikkan statusnya. InshaAllah tahun ini, dari level 1 kita naikkan ke level 2,” kata Ego Arifin.
Penilaian tersebut sangat penting, sebab KONJ Kaltim menginginkan pelatih fisik berkualitas menatap Pra PON pada 2027 yang akan datang.
“Supaya saat Pra PON nanti, teman-teman pelatih di Pengprov cabor dan KONI kabupaten/kota sudah bisa ada mewakili atau ikut dalam Pra PON sudah level 2. Sudah level itu artinya sudah banyak tau,” ucapnya menjelaskan.
Lebih lanjut, Ego berharap semua peserta yang mengikuti pelatihan ini dapat dikatakan layak menjadi pelatih fisik. Sebab, ketahanan fisik atlet selama pertandingan tergantung bagaimana pelatihnya memberikan program.
“Harapan kita, saya sebagai pelaksana, tolong diperhatikan dan nanti hasilnya mungkin lulus semua. Tapi ada juga namanya di pelatihan seperti ini istilah lulus tidak lulus itu tidak ada, tapi layak atau tidak layak,” ujar Ego.
“Pelatih-pelatih di Samarinda jangan sampai masuk di kategori tidak layak, kalau tidak laya tidak masuk database,” tambahnya.
Kemudian setelah mendapatkan sertifikat kelayakan menjadi pelatih fisik, pada penyelenggaraan PON, Pra PON, maupun Kejurnas, KONI Kaltim memberikan kebijakan bahwa semua cabor dan tim wajib didampingi oleh pelatih fisik. Sehingga harapannya kebijakan tersebut juga dapat diterapkan oleh KONI kabupaten/kota. (Dy)





