1 Kilogram Kopi Luwak Desa Perangat Baru Mencapai harga Rp4,5 Juta, Pemdes Akan Buat Program Khusus

1 Kilogram Kopi Luwak Desa Perangat Baru Mencapai harga Rp. 4,5 Juta, Pemdes Akan Buat Program Khusus.

Kutai Kartanegara, Kaltimedia.com – Kopi menjadi komoditas yang sedang popular di pasaran, permintaan akan kopi terus meningkat. Desa Perangat Baru, Kecamatan Marangkayu, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) memiliki sektor tersebut, dan kopi yang dihasilkan pun menjadi produk unggulan.

Potensi tersebut membuat Pemerintah Desa (PemDes) Perangat Baru, berencana mengembangkannya untuk meningkatkan perekonomian masyarakat. Kopi luwak menjadi salah satu produk unggulannya, untuk 1 Kilogramnya dijual dengan harga mencapai Rp 4,5 juta.

Fitriati selaku Kepala Desa Perangat Baru, mengatakan bahwa potensi tersebut menarik perhatian PemDes untuk menjadi program khusus dari desa. “Saat ini jumlah petani kopi yang ada di desa kami ada sekitar 50 orang, mereka sudah melakukan penanaman kopi,” kata Fitriati kepada awak media, Minggu (4/6/2023).

Walau Memiliki potensi yang terbilang cukup besar, namun Fitriati mengungkapkan bahwa Desa Perangat Baru belum bisa menghasilkan produk kopi dengan jumlah yang banyak. Disebabkan dari atas lahan seluas 25 hektare, tanaman kopi yang aktif baru sekitar 2 hektare saja.

Fitriati menyebutkan, banyak pihak yang tertarik dengan produk Kopi Luwak Desa Perangat Baru. tidak hanya dalam pulau Kalimantan saja, peminat Kopi Luwak Desa Perangat Baru tersebar hingga ke pulau Bali.

“Sebenarnya banyak yang minat dengan kopi luwak desa kami, hanya saja baru 2 hektare yang maksimal memproduksi, jadi masih terbatas untuk dipasarkan ke luar. Saat ini masih dipasarkan lokal saja,” ungkapnya.

Dari hal tersebut PemDes Perangat Baru berencana akan bekerjasama dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), untuk memaksimalkan pengelolaan produksi Kopi luwak.

Tujuannya agar dapat meningkatkan perekonomian petani kopi di Desa Perangat Baru. Diharapkan nantinya juga Kopi Luwak Desa Perangat Baru dapat membantu, atau menyumbang Pendapatan Asli Desa (PADes) “Nanti setelah berjalan ini akan dikelola BUMDes yang akhirnya jadi PADes,” tandasasnya.

Share

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *