
Pyongyang, Kaltimedia.com – Putri pemimpin tertinggi Korea Utara, Kim Ju Ae, dilaporkan telah ditunjuk sebagai pelaksana tugas (Plt) direktur jenderal urusan rudal di negara tersebut. Informasi ini berasal dari sumber intelijen Korea Selatan dan menjadi sorotan internasional karena usianya yang diperkirakan masih 13 tahun.
Berdasarkan laporan yang dikutip media Korea Selatan, meskipun jabatan resmi direktur jenderal rudal disebut masih dipegang oleh Jang Chang Ha, Kim Ju Ae diduga menerima laporan langsung dari para jenderal dan bahkan memberikan arahan tertentu terkait program misil.
Posisi tersebut dinilai sangat strategis karena berkaitan langsung dengan program nuklir dan pengembangan rudal balistik Korea Utara.
Tampil di Parade Militer Besar
Kim Jong Un secara konsisten membawa putrinya dalam berbagai acara kenegaraan. Terbaru, keduanya tampil berdampingan mengenakan jaket kulit serupa saat menghadiri parade militer di Lapangan Kim Il Sung, Pyongyang, dalam rangka penutupan kongres Workers’ Party of Korea.
Penampilan kompak ayah dan anak tersebut memicu spekulasi luas bahwa Kim Ju Ae tengah dipersiapkan sebagai calon penerus kepemimpinan. Dalam simbolisme politik Korea Utara, kemunculan di podium kehormatan dan penggunaan busana identik dinilai sebagai pesan politik yang disengaja.
Analis Lim Eul Chul, dikutip CNA, menyebut simbolisme tersebut sulit dianggap kebetulan, terutama dalam konteks citra pemimpin sebagai penjamin keamanan nasional dan masa depan negara.
Kim Ju Ae pertama kali diperkenalkan ke publik internasional pada 2022 saat mendampingi ayahnya dalam uji coba rudal balistik antarbenua di Bandara Internasional Pyongyang.
Sikap Tegas terhadap Korsel dan AS
Di tengah spekulasi suksesi, Kim Jong Un juga menegaskan sikap politiknya. Ia menyatakan tidak akan membuka dialog dengan Korea Selatan dan menyebut militernya mampu “menghancurkan sepenuhnya” negara tersebut.
Terhadap Amerika Serikat, Kim mengatakan hubungan dapat membaik jika Washington menghentikan kebijakan yang dianggap bermusuhan dan mengakui status Korea Utara sebagai negara bersenjata nuklir.
Ia juga menyerukan pengembangan sistem persenjataan baru, termasuk rudal balistik antarbenua berbasis kapal selam serta perluasan senjata nuklir taktis untuk memperkuat daya gentar militernya.
Kongres Partai Buruh yang digelar lima tahun sekali itu dilaporkan dihadiri sekitar 5.000 perwakilan dan ditutup dengan parade militer besar, menampilkan pasukan bersenjata lengkap serta atraksi udara pesawat tempur.
Kehadiran Kim Ju Ae di podium kehormatan bersama ayahnya semakin menguatkan dugaan bahwa ia diproyeksikan sebagai bagian dari kelanjutan dinasti “garis keturunan Paektu” yang telah memerintah Korea Utara selama beberapa dekade. (Ang)



