
Jakarta, Kaltimedia.com – Perbincangan mengenai frekuensi ejakulasi pada pria kerap dikaitkan dengan kualitas sperma hingga risiko kanker prostat. Di tengah beredarnya anggapan bahwa sperma yang terlalu lama tidak dikeluarkan dapat membahayakan kesehatan, para ahli menegaskan bahwa ejakulasi memang memiliki peran dalam menjaga kesehatan sistem reproduksi pria.
Meski demikian, hingga kini belum ada aturan medis baku terkait seberapa sering pria harus ejakulasi.
Dokter Spesialis Andrologi di Eka Hospital Family PIK, Christian Christoper Sunnu, menjelaskan bahwa sperma diproduksi setiap hari dan memiliki siklus hidup terbatas di dalam sistem reproduksi pria.
“Sperma diproduksi setiap hari, rata-rata sekitar 8 juta. Sperma dihasilkan di buah zakar dan disimpan di epididimis yang kapasitas penyimpanannya sekitar dua minggu. Kalau terlalu lama tidak dikeluarkan, bisa menumpuk dan berdampak pada kualitas,” ujar Sunnu di Jakarta Pusat, Selasa (16/12).
Menurutnya, epididimis bukan tempat penyimpanan permanen. Sperma yang terlalu lama berada di saluran reproduksi dapat mengalami penurunan kualitas, meskipun tubuh juga memiliki mekanisme alami untuk menyerap kembali sperma yang tidak digunakan.
Terkait kanker prostat, Sunnu menegaskan belum ada patokan medis pasti yang menyatakan frekuensi ejakulasi tertentu dapat mencegah penyakit tersebut. Namun, ia menilai ejakulasi secara berkala, sekitar satu hingga dua minggu sekali, dapat membantu menjaga kesehatan sperma dan prostat.
Sejumlah penelitian juga mengaitkan frekuensi ejakulasi dengan risiko kanker prostat. Mengutip laman kesehatan WebMD, pria yang mengalami ejakulasi sekitar 21 kali dalam sebulan dilaporkan memiliki risiko kanker prostat sekitar 20 persen lebih rendah dibandingkan mereka yang ejakulasinya lebih jarang.
Meski begitu, temuan ini bersifat korelasional dan belum membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung.
Risiko Peradangan dan Faktor Usia
Sunnu menjelaskan bahwa sperma yang terlalu lama tidak dikeluarkan berpotensi memicu proses oksidasi yang menghasilkan radikal bebas.
“Sperma yang sudah terlalu lama bisa mengalami penurunan kualitas dan dalam kondisi tertentu berkontribusi terhadap peradangan. Peradangan kronis inilah yang bisa berhubungan dengan gangguan prostat,” jelasnya.
Ia menambahkan, mekanisme ejakulasi alami juga dipengaruhi oleh usia. Pada usia muda, tubuh masih memiliki mekanisme pengeluaran sperma spontan seperti mimpi basah. Namun, seiring bertambahnya usia, mekanisme tersebut cenderung berkurang.
“Usia 16–18 tahun mekanisme mimpi basah masih aktif. Tapi di usia 30–40 tahun biasanya sudah jauh berkurang,” ujarnya.
Meski demikian, ejakulasi yang terlalu sering juga tidak selalu berdampak positif, terutama terhadap kualitas sperma. “Kalau tujuannya menjaga kualitas sperma, ejakulasi setiap hari juga tidak ideal,” kata Sunnu.
Gaya Hidup dan Risiko Gangguan Prostat
Selain faktor ejakulasi, Sunnu menyoroti gaya hidup sebagai faktor penting dalam kesehatan prostat. Gangguan prostat, termasuk pembesaran prostat, lebih sering terjadi pada pria usia 40 hingga 50 tahun dengan aktivitas fisik rendah.
“Kurang gerak, massa lemak tinggi, dan massa otot rendah menjadi faktor risiko. Padahal proses ejakulasi membutuhkan kerja otot,” jelasnya.
Ia menyebut pekerja kantoran yang terlalu lama duduk dan jarang berolahraga cenderung lebih berisiko mengalami pembesaran prostat dibandingkan pria yang rutin beraktivitas fisik.
“Yang sering kena pembesaran prostat itu mereka yang jarang gerak. Kalau aktif olahraga, risikonya lebih kecil,” tambahnya.
Kanker prostat sendiri dapat memengaruhi ejakulasi, antara lain menimbulkan nyeri, darah pada air mani, atau berkurangnya volume ejakulat.
Hingga kini, belum diketahui secara pasti apakah ejakulasi melalui hubungan seksual memiliki manfaat yang sama dengan masturbasi. Beberapa studi menunjukkan perbedaan komposisi air mani, namun pengaruhnya terhadap risiko kanker prostat masih memerlukan penelitian lebih lanjut. (Ant)



