
Malaysia, Kaltimedia.com – Pemerintah Negara Bagian Melaka, Malaysia, berencana membangun jembatan yang akan menghubungkan wilayahnya dengan Dumai, Riau, Indonesia.
Kajian awal proyek besar ini dijadwalkan dimulai pada 2026 dengan alokasi dana sebesar RM 500 ribu atau sekitar Rp2,04 miliar.
Ketua Menteri Melaka, Ab Rauf Yusoh, mengatakan dana tersebut akan digunakan untuk membayar perusahaan konsultan yang bertugas menyiapkan studi teknis, ekonomi, dan logistik proyek jembatan sepanjang 47 kilometer tersebut.
Rauf menjelaskan, jembatan nantinya akan menghubungkan Pengkalan Balak di Masjid Tanah, Melaka, dengan wilayah pesisir Sumatera bagian timur di Indonesia.
Menurut Rauf, pembangunan jembatan ini sejalan dengan upaya pemerintah Melaka mengembangkan kawasan industri baru di lahan seluas 5.000 hektare di Masjid Tanah.
Ia optimistis keberadaan jembatan itu dapat memperkuat sektor ekonomi dan menjadikan Melaka sebagai pusat industri dan logistik baru di Selat Malaka.
Dukungan dari Pemerintah RiauPemerintah Kabupaten Bengkalis dan Pemerintah Kota Dumai menyatakan dukungan terhadap rencana studi kelayakan yang akan dilakukan Universiti Teknikal Malaysia Melaka (UTeM) bersama para pemangku kepentingan dari kedua negara.
Dalam pertemuan focus group discussion (FGD) di Dumai pada Oktober lalu, berbagai aspek penting turut dibahas, mulai dari studi finansial, ekonomi, lingkungan, tata kelola, hingga dampak sosial.
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Bengkalis, Toharudin, menegaskan bahwa proyek jembatan Dumai-Melaka dinilai mampu mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi masyarakat pesisir Riau.
“Pemerintah Kabupaten Bengkalis mendukung penuh studi kelayakan ini sebagai upaya memperkuat konektivitas regional dan membuka jalur strategis baru bagi perekonomian Bengkalis dan Dumai,” ujarnya.
Menuai Kritik di Malaysia
Meski mendapat dukungan dari pihak Indonesia, rencana pembangunan jembatan tersebut menuai kritik di dalam negeri.
Ketua oposisi Melaka, Yadzil Yaakub, meragukan kelayakan finansial proyek tersebut dan menilai rencana itu terlalu ambisius.
Ia menyoroti bahwa pemerintah Melaka masih sangat bergantung pada dana dari pemerintah federal di Putrajaya.
“Jika memperbaiki jalan negara bagian saja memerlukan bantuan federal, bagaimana mungkin kita membiayai proyek sebesar ini?” ujar Yadzil dikutip dari Free Malaysia Today, Minggu (21/12).
Yadzil juga mempertanyakan potensi ekonomi dari wilayah Indonesia yang akan dihubungkan, karena menurutnya bukanlah pusat ekonomi utama. Ia khawatir proyek berisiko gagal dan akhirnya membebani keuangan publik.
Potensi Penguatan Hubungan Bilateral
Meski masih pada tahap kajian, proyek ini dinilai memiliki potensi besar memperkuat hubungan bilateral antara Indonesia dan Malaysia, khususnya dalam bidang ekonomi, transportasi, dan teknologi.
Jika terwujud, jembatan Melaka-Dumai akan menjadi salah satu proyek konektivitas terbesar di kawasan Asia Tenggara dan dapat membuka jalur perdagangan baru di Selat Malaka. (AS)





