BI Petakan 10 Komoditas Pemicu Inflasi Jelang Nataru, Beras Masih Dominan

Gambar saat ini: Foto: Beras masih jadi komoditas penyumbang inflasi terbesar tahun 2025. Sumber: Istimewa.
Foto: Beras masih jadi komoditas penyumbang inflasi terbesar tahun 2025. Sumber: Istimewa.

Samarinda, Kaltimedia.com — Bank Indonesia (BI) memprediksi tekanan inflasi akan menguat menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru), seiring meningkatnya konsumsi masyarakat pada periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).

BI mencatat sedikitnya 10 komoditas utama berpotensi menjadi penyumbang inflasi, mencakup kelompok pangan, energi rumah tangga, hingga transportasi. Pola ini disebut sebagai tren tahunan yang berulang.

Asisten Direktur Bank Indonesia Perwakilan Kalimantan Timur, Ashari Novy Sucipto, mengatakan lonjakan permintaan dalam waktu singkat kerap memicu kenaikan harga, terutama ketika pasokan tidak sepenuhnya siap.

“Tekanan harga menjelang hari besar seperti Nataru, Ramadan, dan Idulfitri bukan lagi fenomena sesaat. Ini pola historis yang selalu muncul setiap tahun,” ujar Ashari dalam High Level Meeting TPID Kota Samarinda.

Dari seluruh komoditas, beras masih menjadi penyumbang inflasi terbesar. Konsumsi yang meningkat tajam membuat harga beras sangat sensitif terhadap gangguan distribusi.

“Beras secara umum selalu memberi andil inflasi saat HBKN karena permintaan melonjak,” jelasnya.

Selain beras, minyak goreng juga kerap mengalami kenaikan harga menjelang libur panjang. Sementara dari sektor jasa, tarif angkutan udara hampir selalu meningkat akibat tingginya mobilitas masyarakat.

“Angkutan udara konsisten memberi kontribusi inflasi saat Nataru maupun Idulfitri,” tambah Ashari.

Komoditas lain yang turut menjadi perhatian BI meliputi emas perhiasan, yang permintaannya meningkat di akhir tahun, serta komoditas hortikultura seperti cabai rawit, bawang merah, dan bawang putih yang rentan bergejolak akibat faktor cuaca dan distribusi.

Sementara itu, komoditas protein seperti daging ayam ras dan ikan layang juga berpotensi mengalami tekanan harga jika pasokan tidak terjaga.

Secara nasional, pemerintah menargetkan inflasi berada di kisaran 2,5 persen. Untuk Kota Samarinda, inflasi November tercatat 2,10 persen, masih dalam batas sasaran, namun menunjukkan tren peningkatan menjelang akhir tahun.

“Distribusi dan pasokan harus benar-benar dijaga. Gangguan kecil saja bisa berdampak besar pada harga,” tegas Ashari. (Rfh)

Editor: Ang

Share

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *