China Murka ke Jepang, Konsul di Osaka Ancam Penggal PM Sanae Takaichi

Foto: Ilustrasi bendera China-Jepang. Sumber: (pinterest/vecteezy)

Samarinda, Kaltimedia.com – Hubungan diplomatik China dan Jepang memanas setelah Konsulat Jenderal China di Osaka, Xue Jian, mengunggah pernyataan bernada ancaman terhadap Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi di media sosial.

Kemarahan Beijing berawal dari pidato Takaichi di hadapan parlemen pekan lalu. Dalam pidato itu, Takaichi menyebut serangan bersenjata terhadap Taiwan bisa menjadi dasar bagi Jepang untuk mengerahkan pasukan sesuai konsep pertahanan kolektif.

“Jika keadaan darurat di Taiwan melibatkan kapal perang dan penggunaan kekuatan militer, maka itu dapat dianggap sebagai situasi yang mengancam kelangsungan hidup Jepang,” ujar Takaichi, dikutip dari AFP.

Kementerian Luar Negeri (Kemlu) China, Tuntut Jepang Tarik Pernyataan

Kemlu China menilai, pernyataan Takaichi keliru dan penuh provokasi. Juru bicara Kemlu China, Lin Jian, menegaskan, bahwa pihak Jepang harus segera menarik ucapan tersebut.

“Jepang harus segera memperbaiki tindakan keliru itu dan menarik kembali pernyataan yang tidak berdasar,” kata Lin dalam konferensi pers, dikutip cnn.

Namun Takaichi menolak menarik ucapannya dan menegaskan bahwa sikapnya sejalan dengan prinsip pertahanan Jepang. Perdana menteri perempuan itu memang dikenal keras terhadap Beijing dan kerap menunjukkan dukungan terbuka bagi Taiwan.

Konsulat China di Osaka Melontarkan Ancaman

Situasi semakin panas ketika Konsulat Jenderal China di Osaka, Xue Jian, menulis komentar bernada ancaman di media sosial. Ia menyertakan tautan berita tentang Takaichi dan menulis kalimat yang memicu kontroversi.

“Leher kotor itu masuk sendiri, saya tak punya pilihan selain memenggal tanpa ragu sedikit pun. Apakah Anda siap?” tulis Xue dalam unggahannya yang dikutip dari Newsweek. Unggahan tersebut kini telah dihapus.

Jepang Tuntut Klarifikasi dan Kecam China

Pernyataan Xue langsung memicu kecaman dari pemerintah Jepang. Menteri Luar Negeri Toshimitsu Motegi menilai komentar itu sangat tidak pantas dan berpotensi memengaruhi hubungan diplomatik kedua negara.

“Kami mendesak keras agar China mengambil langkah yang tepat supaya insiden ini tidak memengaruhi arah hubungan Jepang-China secara keseluruhan,” ujar Motegi.

Parlemen Jepang dan warganet ikut mengecam tindakan Xue. Beberapa anggota parlemen bahkan menyerukan agar diplomat China itu dinyatakan persona non grata dan segera diusir.

Xue Klarifikasi dan Salahkan Politisi Jepang

Menanggapi reaksi keras itu, Xue Jian akhirnya meminta publik berhenti berspekulasi dan menyebut pernyataannya disalahartikan. Ia menegaskan masalah ini berawal dari sikap politisi Jepang yang dinilai mengabaikan peringatan China.

“Saya ingin menegaskan akar masalahnya terletak pada politisi Jepang yang mengabaikan penolakan kami secara berulang dan tegas,” kata Xue. 

Ia menambahkan, anggapan bahwa keadaan darurat di Taiwan juga berarti keadaan darurat bagi Jepang menjadi ancaman bagi China.

Ketegangan China-Jepang Soal Taiwan Meningkat

Dalam beberapa bulan terakhir, China semakin intens menunjukkan kekuatan militernya di sekitar Taiwan. Beijing menegaskan tidak menutup kemungkinan menggunakan cara paksa untuk mempertahankan klaim kedaulatan atas pulau tersebut.

Sementara itu, Jepang khawatir serangan China terhadap Taiwan akan mengganggu rantai pasokan global dan memperkuat posisi militer Beijing di kawasan Asia Timur. Pasalnya, sekitar 99 persen perdagangan Jepang bergantung pada rute maritim yang dekat dengan wilayah Taiwan. (AS)

Sumber: (CNN Indonesia)

Share

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *