Kampung Bungas Balikpapan bakal Ciptakan Aplikasi, Wisatawan Reservasi sebelum Berkunjung

INOVASI – Inovasi terbesar yang sedang dipersiapkan Kampung Bungas. Inovasi itu adalah penerapan sistem reservasi bagi pengunjung. Rencananya, tamu yang ingin menikmati keindahan Kampung Bungas harus memesan terlebih dahulu melalui aplikasi yang sedang dalam proses pembuatan. Sumber foto: Instagram Kelurahan Gunung Sari Ilir

BALIKPAPAN – Kampung Bungas masih melakukan pengembangan untuk mempercantik kawasan kampung. Meskipun kampung ini mendapat juara dalam kompetisi Clean, Green dan Healthy (CGH) Kota Balikpapan 2025.

Suwanto, penggagas Kampung Bungas menyatakan bahwa akan banyak hal baru yang dihadirkan.

“Kami akan menata, berinovasi kembali, hingga membuat suatu yang berbeda,” ujarnya.

Salah satu inovasi terbesar yang sedang dipersiapkan adalah penerapan sistem reservasi bagi pengunjung. Rencananya, tamu yang ingin menikmati keindahan Kampung Bungas harus memesan terlebih dahulu melalui aplikasi yang sedang dalam proses pembuatan.

“Ke depan Kampung Bungas menerapkan sistem reservasi bagi tamu yang ingin berkunjung. Namun dengan syarat mereka harus memesan menu yang kami sediakan,” jelas Suwanto.

Kebijakan ini bukan tanpa alasan. Langkah strategis ini bertujuan agar warga bisa mendapatkan manfaat ekonomi yang lebih, langsung dan berkelanjutan

“Kalau cuma datang berkunjung, nanti warga kan capek tuh cuma menyiapkan makan minum. Akhirnya menjadi kelelahan yang tidak menghasilkan apa-apa,” tambahnya.

Dengan sistem ini, kunjungan wisatawan tidak hanya membawa kebanggaan, tetapi juga kontribusi nyata bagi peningkatan pendapatan warga.

Kampung Bungas telah lama dikenal sebagai kawasan hijau yang produktif. Kawasan yang terdiri dari RT 64, 65, 66, 68, dan 69 ini berhasil mengubah keterbatasan lahan menjadi peluang dengan inovasi pertanian hidroponik dan vertikultur.

Suasana kampung tertata rapi dan asri. Setiap rumah memanfaatkan pekarangan, bahkan ruang di atas parit, untuk menanam aneka tanaman hias, bunga, buah, dan sayuran. Hasilnya tidak hanya dinikmati sendiri, tetapi juga menjadi pemandangan yang menyejukkan bagi siapa pun yang berkunjung.

Fasilitas pendukung seperti rumah kompos dan ruang pembibitan turut melengkapi ekosistem hijau ini. Saat ini, terdapat 18 titik hidroponik dengan lebih dari 3.000 lubang tanam yang aktif menghasilkan sawi, kangkung, bayam, dan daun sop. Bahkan, budidaya melon hidroponik juga berhasil dilakukan.

Tidak ketinggalan, budidaya tanaman dalam pot (tabulampot) untuk tomat, terong, cabai, serta aneka Tanaman Obat Keluarga (Toga) terus dikembangkan. Sebagai tambahan daya tarik, warga sedang mempersiapkan spot baru berupa taman bromelia yang sedang ditata.

Dengan semangat gotong royong dan komitmen untuk merawat lingkungan mulai dari rumah sendiri, Kampung Bungas tidak hanya menjadi contoh permukiman hijau, tetapi juga destinasi edukasi dan wisata lingkungan yang inspiratif. Sebelumnya, Wakil Wali (Wawali) Kota Balikpapan, Bagus Susetyo mengatakan, praktik seperti di Kampung Bungas membuktikan bahwa pengelolaan sampah tidak harus bergantung sepenuhnya pada pemerintah. 

Menurutnya, inisiatif warga untuk memanfaatkan sisa makanan dan bahan organik menjadi pupuk mampu memberi manfaat ekonomi sekaligus menjaga lingkungan tetap bersih.

“Di Gunung Sari Ilir, warga sudah mengolah sisa makanan menjadi kompos. Ini bisa ditiru oleh kelurahan lain karena manfaatnya nyata, baik bagi lingkungan maupun ekonomi keluarga,” ucap Bagus, Selasa (4/11/2025).

Program tersebut sejalan dengan target pengurangan sampah kota yang hingga kini masih mencapai 30-50 persen dari total produksi harian. Ia menyebut, inovasi berbasis komunitas seperti ini dapat memperpanjang umur TPA dan mengurangi ketergantungan pada sistem pengangkutan konvensional.

Bagus menegaskan, Pemkot mendorong agar setiap kelurahan dan RT mengembangkan sistem pengelolaan serupa. Selain melalui edukasi, DLH juga memberikan pendampingan teknis bagi kelompok masyarakat yang ingin mengelola sampah secara mandiri.

“Kita ingin semua wilayah punya model pengelolaan sendiri. Semakin banyak sampah yang diolah di sumbernya, semakin kecil beban kota,” ucapnya.

Bagus menuturkan, sampah organik yang diolah menjadi kompos memiliki nilai jual dan dapat dimanfaatkan untuk pertanian perkotaan atau penghijauan lingkungan. 

Di sisi lain, Pemkot Balikpapan juga menilai hal ini sejalan dengan visi Balikpapan sebagai kota global yang nyaman dan berkelanjutan. “Jika semua kelurahan melakukan hal serupa, kita bisa menekan sampah ke TPA seminimal mungkin,” tekannya.

Kemudian, pihaknya pun mengembangkan Program Kampung Ibadah Hijau, yang mengintegrasikan rumah ibadah dengan sistem pengelolaan lingkungan. 

Program ini tengah diusulkan ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sebagai bagian dari Program Kampung Iklim (Proklim) tingkat nasional. “Prinsipnya sederhana yakni sampah yang organik dijadikan pupuk, yang plastik dijual, sisanya diolah. Dengan cara itu, lingkungan bersih dan ekonomi warga ikut tumbuh,” pungkas Bagus. (adv/pry)

Share

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *