
Jakarta, Kaltimedia.com – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengungkapkan bahwa sejumlah perusahaan minyak dan gas (migas) tengah mengkaji rencana pembangunan kilang minyak baru. Langkah ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan pada Pertamina sekaligus mencegah kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) yang belakangan terjadi di SPBU swasta.
“Itu step kedua. Saya yakin teman-teman pengusaha sudah mulai memikirkan membangun kilang selain daripada (kilang) Pertamina,” kata Bahlil dalam konferensi pers di Kantor ESDM, Jakarta Pusat, Jumat (19/9/2025).
Hingga saat ini, hampir seluruh kilang minyak di Indonesia dikuasai Pertamina. Beberapa di antaranya yakni Kilang Dumai (RU II) di Riau, Kilang Plaju (RU III) di Sumatera Selatan, Kilang Cilacap (RU IV) di Jawa Tengah, Kilang Balikpapan (RU V) di Kalimantan Timur, Kilang Balongan (RU VI) di Indramayu, dan Kilang Kasim (RU VII) di Papua Barat.
Dengan dominasi tersebut, pasokan BBM untuk perusahaan migas swasta seperti Shell Indonesia, BP AKR, dan Vivo sangat bergantung pada distribusi Pertamina. Bahlil mengakui bahwa stok di SPBU swasta memang sempat menipis, sehingga beberapa titik mengalami kekosongan BBM.
Meski demikian, Bahlil memastikan bahwa stok nasional masih dalam kondisi aman. “Stok cadangan BBM itu 18–21 hari, clear. Jadi, nggak perlu ada rasa keraguan apa-apa. Cuma memang, di teman-teman kita punya swasta, cadangannya menipis,” ujarnya.
Untuk mengatasi kekosongan tersebut, Shell Indonesia Cs sepakat membeli pasokan dari Pertamina. Namun, mereka meminta agar pasokan yang diberikan bukan BBM siap pakai, melainkan BBM murni (base fuel).
Menurut Bahlil, base fuel yang dimaksud merupakan bahan bakar mentah sebelum dicampur dengan aditif tambahan. “Kalau Pertamina jual sudah jadi teh, mereka (swasta) bilang jangan teh, air panas saja. Jadi nanti dicampurnya mereka sendiri sesuai kriteria,” jelasnya dengan analogi sederhana.
Untuk menjaga kualitas, Pertamina bersama perusahaan migas swasta akan melakukan joint survey sebelum pengiriman BBM ke tangki penyimpanan.
Bahlil menekankan, kesepakatan ini hanya solusi jangka pendek. Jalan keluar permanen adalah dengan pembangunan kilang baru oleh perusahaan migas swasta, agar distribusi BBM lebih stabil dan tak hanya bergantung pada Pertamina. (Ang)





