
Samarinda, Kaltimedia.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) akhirnya mulai dirasakan sebagian anak-anak sekolah di Kalimantan Timur (Kaltim). Program yang digagas pemerintah pusat melalui Perpres Nomor 83 Tahun 2024 ini hadir untuk memastikan anak-anak Indonesia, khususnya dari keluarga rentan, tidak lagi berangkat belajar dengan perut kosong.
Kepala Dinas Pangan Tanaman Pangan dan Hortikultura Kaltim, Siti Farisyah Hana, menyebutkan program ini merupakan langkah awal untuk memperbaiki kualitas gizi anak sejak dini. Tidak hanya menyasar anak usia PAUD, TK, SD, SMP, tetapi juga ibu hamil dan menyusui.
“Melalui MBG, pemerintah ingin membangun generasi sehat, cerdas, dan produktif. Sekaligus mendorong pemanfaatan pangan lokal, menghidupkan UMKM, dan memberdayakan petani serta nelayan di daerah,” jelas Farisyah, Jumat (22/8/2025).
Namun, perjalanan program ini tidak serta merta berjalan mulus. Dari target 371 dapur layanan gizi atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang seharusnya tersedia di seluruh Kaltim, baru 21 unit yang benar-benar beroperasi. Itu pun sebagian besar berada di kota besar seperti Samarinda dan Balikpapan.
“Kalau dihitung, 21 dapur itu baru bisa melayani sekitar 7 ribu anak. Padahal target kita lebih dari 1,1 juta siswa SD dan SMP di seluruh Kaltim,” ungkapnya.
Meski masih jauh dari harapan, pemerintah tidak ingin menyerah. Sekitar 200 SPPG kini sedang dipersiapkan, terdiri dari 175 dari swasta/masyarakat dan 25 dari pemerintah daerah. Artinya, masih dibutuhkan 151 dapur lagi untuk mengejar target pemerataan.
Lebih dari sekadar angka, program MBG diyakini sebagai investasi masa depan. Farisyah mengingatkan bahwa asupan gizi berhubungan langsung dengan tumbuh kembang anak.
“Banyak penelitian menunjukkan anak yang kekurangan makan siang bergizi cenderung kesulitan fokus belajar. Otak mereka tidak bisa berkembang optimal. Dengan MBG, kita berusaha menutup celah itu,” tuturnya.
Menu yang disiapkan pun bukan sekadar nasi dengan lauk sederhana. Ahli gizi yang sudah dilatih akan merancang porsi seimbang, terdiri dari karbohidrat, protein hewani, protein nabati, sayur, dan buah. Semua anak yang terdata di sekolah sekitar dapur MBG berhak mendapatkannya, tanpa membedakan latar belakang ekonomi.
Farisyah menegaskan, tantangan terbesar saat ini adalah mempercepat pembangunan SPPG, terutama di wilayah pedalaman dan perbatasan seperti Mahakam Ulu dan Kutai Barat.
“Anak-anak di pelosok juga berhak merasakan manfaat program ini. Karena itu kita dorong partisipasi pemerintah daerah, swasta, hingga masyarakat agar bisa bergerak bersama,” ujarnya.
Dengan rata-rata layanan 21 hari per bulan, MBG diharapkan menjadi kebiasaan baik bagi anak-anak, sekaligus simbol perhatian negara terhadap generasi penerus.
“Program ini bukan sekadar soal makanan, tapi tentang masa depan anak-anak kita. Kita ingin mereka tumbuh kuat, cerdas, dan siap bersaing di tahun 2045,” pungkas Farisyah. (Rfh)
Editor: Ang





