Pengemudi Taksi Online Demo, Tuntut Pemerintah Tindak Tegas 3 Aplikator Online yang Tak Jalankan SK Gubernur Kaltim

Ratusan pengemudi taksi online yang mengatasnamakan dirinya Aliansi Mitra Kaltim Bersatu (AMKB) melakukan unjuk rasa di depan Kantor Gubernur Kaltim pada Rabu, (7/2/2024).

KALTIMEDIA.COM, SAMARINDA – Ratusan pengemudi taksi online yang mengatasnamakan dirinya Aliansi Mitra Kaltim Bersatu (AMKB) melakukan unjuk rasa di depan Kantor Gubernur Kaltim pada Rabu, (7/2/2024).

Koordinator Lapangan (Korlap) Aksi, Yohanes Brekhman mengatakan, pihaknya melakukan demonstrasi untuk menuntut aplikator agar mematuhi Surat Keputusan (SK) Gubernur Kaltim Nomor: 100.3.3.1/k.673/2023 yang mengatur tarif batas bawah, batas atas dan tarif minimal untuk taksi online yang terbit pada 19 September 2023.

“Tapi sampai detik ini, SK Gubernur itu tidak diindahkan oleh tiga aplikator yang ada di Kaltim yaitu Go-Jek, Grab dan Maxim,” sebut Yohanes.

Sesuai SK Gubernur tersebut, aplikator harus bisa memilih tarif sesuai ketetapan, yakni tarif batas bawah sebesar Rp 5.000 dan tarif batas atas Rp 6.000. Aplikator juga bisa menetapkan harga diantara dua tarif yang telah disepakati itu.

“Kesepakatan di SK itu kan per empat kilometer tarif yang diterima pengemudi taksi online bersih sebesar Rp 18.800. Untuk seterusnya per kilometer barulah ditambahkan dengan tarif yang sudah ditentukan oleh masing-masing aplikasi, yaitu di antara batas atas dan batas bawah,” jelasnya.

Menurut Yohanes, masalah ini telah berlarut-larut karena pihaknya bersama aplikator sudah berkali-kali melakukan pertemuan, baik melalui Dinas Perhubungan (Dishub) Kaltim ataupun DPRD Kaltim. Bahkan dalam RDP bersama DPRD Kaltim beberapa waktu lalu, notulen telah dibuat di mana aplikator harus melakukan perubahan harga pada 3 Februari 2024 tepat pukul 00.00 WITA.

“Tapi faktanya sampai sekarang belum berubah. Makanya kami disini menuntut hak kami berdasarkan Permenhub Nomor 118 bahwa tarif taksi online untuk roda empat diatur oleh daerah dalam hal ini Gubernur. Makanya kami minta tiga aplikator ini dihadirkan kesini,” tegas Yohanes.

Lebih lanjut, Yohanes berharap agar tarif taksi online di Kaltim bisa berubah sesuai SK Gubernur Kaltim. Jika aplikator tidak mengindahkan, maka pemerintah wajib untuk memberikan sanksi sesuai dengan aturan yang berlaku.

Aksi unjuk rasa ini pun sempat membuat kemacetan di kawasan Jalan Gajah Mada, lantaran satu ruas jalan ditutup oleh massa aksi. (As)

Share

You may also like...

2 Responses

  1. Xsan berkata:

    Berat boy,,,, aplikator posisinya diatas angin. Kenapa,,, karena diantara driver sendiri gak ada kekompakan yg ada hanyalah individualis pengin cari sumber penghidupan sendiri melupakan tarif yg dirasa tidak berpihak ke driver atau mitra itu sendiri. Berkaca dari sifat driver itu sendiri aplikator bisa mempermainkan semaunya kalo mau ikuti aturan aplikator kalo gak mau aplikator bisa cari driver yang lain karena diluar sana masih banyak yg nyari mau jadi mitra baru. Saya sendiri x driver online pernah merasakan jaman keemasan antara 2017- 2018 akan tetapi semakin kesini nasib driver makin gak jelas. Sy pernah lawan aplikator demo sana sani, pertemuan sana sini tapi seperti yg sy sampaikan diatas hasil NOL karena gak ada keseriusan dr mitra itu sendiri. Saat diajak demo untuk berjuang pada iya iya, tapi kenyataan dibelakang juga NOL dan pengin cari hidup sendiri sendiri.
    Berkaca dari itu kalian harus kompak dulu dan hal itu yg paling sulit didapat dr mitra driver itu sendiri. Tapi buat kalian yg berjuang tetap semangat jangan menyerah

  2. Tri rahmadi berkata:

    Pemerintah hanya bisa sebatas mengeluarkan Surat…tetapi tidak mengontrol apakah surat
    SK tersebut sudah di jalankan atau tidak di jalan kan oleh pihak aplikator….rakyat susah dg tindakan aplikator yang bikin susah masyarakat…
    Pemerintah enak2 santai di kantor tempatnya dingin AC tidak mau monitor tanggungjawabnya….
    Kalo bukan pemerintah siapa lagi yang melindungi masyarakat dari kezholiman Aplikator…..Turun dan kontrol ke bawah…dengarkan Aspirasi masyarakat….kasian pak…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *