
Samarinda – Dalam Rapat Koordinasi persiapan menuju pra PON 2023 yang dilaksanakan KONI Kaltim bersama perwakilan seluruh Pengprov cabor, pada Kamis (26/01/2023) kemarin, selaras dengan arahan yang disampaikan Gubernur Kaltim, agar dalam menyongsong PON 2024 di Aceh-Sumatera Utara nanti, hanya atlet-atlet berkualitas yang dipilih untuk mewakili Benua Etam.
“Jadi yang mau kami tangkap dari kegiatan hari ini adalah soal kualitas bukan kuantitas, untuk peserta di pra PON tahun ini,” tegas Ketua Umum KONI Kaltim, Rusdiansyah Aras dalam sambutan pembukaan Rakor.
Sebagai solusinya, KONI akan menyerahkan sepenuhnya proses seleksinya kepada masing-masing cabor. Nanti pun saat mereka turun di pra PON, KONI akan menempatkan anggotanya untuk mendampingi hingga mereka usai mengikuti kualifikasi.
Untuk selanjutnya memberikan laporan, bagaimana peluang cabor tersebut bisa memperoleh medali. Ini sekaligus untuk memenuhi persyaratan, bahwa hanya peserta yang masuk dalam zona medali, yang akan dikirim sebagai delegasi Kaltim di PON 2024.
“Sehingga ada efisiensi anggaran, sampai saat di PON-nya nanti, kita akan maksimalkan untuk bisa mencapai target,” katanya.
Langkah-langkah yang disepakati sebelumnya pada rapat pimpinan KONI Kaltim ini kemudian disampaikan secara rinci oleh pimpinan rakor, Ego Arifin. Di hadapan seluruh perwakilan pengprov, Ego kembali menegaskan bahwa di pra PON nanti, tak serta merta cabor bisa mengirimkan atlet sebanyak-banyaknya. Hanya mereka yang dinilai memiliki kans besar bersaing di zona medali.
“Berdasar kesepakatan kami, untuk atlet yang dikirim ke PON 2024, hanya mereka yang masuk dalam zona medali di babak kualifikasi,” tegas Ego.
Selain itu, Ego juga mengatakan hasil porprov Berau bukan menjadi satu-satunya acuan. Maka dari itu, masing-masing cabor diminta untuk kembali melakukan seleksi terhadap atletnya. Di mana untuk proses seleksi itu, apakah melalui kejuaraan provinsi atau sistem lainnya, KONI Kaltim akan mempersiapkan bantuan anggaran untuk pelaksanaannya.
Di sisi lain, KONI Kaltim juga akan memberikan perlakuan yang berbeda untuk cabor dan atlet peraih medali. Hal ini disebutnya bukan sebagai bentuk diskriminasi, tapi lebih pada objektifitas berdasarkan prestasinya. Diharapkan, kebijakan ini bisa memacu cabor-cabor yang belum berprestasi untuk bisa membuktikan hasil pembinaannya.
“Nanti kami akan klasifikasikan cabor yang meraih medali dan non medali, berdasarkan hasil PON di Papua lalu,” jelasnya.
Setelah itu, hasil di pra PON akan kembali dievaluasi, untuk memberikan apresiasi pada atlet peraih medali. Dengan kata lain, atlet yang meraih emas akan menerima dana TC lebih besar dari medali di bawahnya. Sementara untuk kelanjutan TC Mandiri yang dibubarkan tahun lalu, dengan tegas dikatakan tidak dilanjutkan. TC akan kembali dilakukan usai pra PON seluruh cabor selesai digulirkan, tentu dengan regulasi seperti yang dijelaskan, berdasar prestasi.
“Yang jelas sebelum pra PON, harus ada seleksi lagi dari masing-masing cabor. Setelah itu, kami akan melihat lagi hasil tes fisiknya, untuk memastikan atlet yang diberangkatkan di babak kualifikasi,” pungkas Ego.





