
SAMARINDA – Sejak beberapa pekan terakhir, tampak antrean panjang kendaraan yang sudah menjadi pemandangan biasa di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) milik Pertamina, baik di Samarinda, Kukar, Kutim, Kubar, Balikpapan serta Kabupaten dan Kota lain yang ada di Kaltim. Karenanya Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia Kalimantan Timur (GMNI) mempertanyakan mengenai stok ketersediaan bahan bakar di Kaltim.
Bahkan mereka juga mempertanyakan, bagaimana mungkin Kaltim yang notabennya sebagai Provinsi penghasil Migas, malah kekurangan.
“Minyak ini banyak dari Kaltim, tapi dengan kekurangan seperti ini tentu kita patut curiga, bagaimana peran Pertamina dalam memenuhi kebutuhan masyarakat Kaltim?” kata Andi Muhammad Akbar ketua GMNI Kaltim.
Menurutnya hal ini harus segera diatasi karena kerugian yang ditimbulkan cukup banyak, terutama masyarakat yang membutuhkan BBM untuk bekerja.
“Sopir truk misalnya, harus antre berjam-jam untuk mendapatkan solar, waktunya terbuang ditambah ada biaya tambahan yang mereka harus keluarkan saat menunggu,” ucapnya.
Selain itu tentu antrian panjang juga menyebabkan kemacetan, tata kota semrawut, dan kecelakaan lalu lintas yang semakin sering terjadi. Terbaru kejadian di Jalan Untung Suropati, Kelurahan Loa Bakung Kecamatan beberapa waktu yang lalu menyebabkan pengendara tewas.
Atas dasar itu pihaknya mendorong agar seluruh pihak dapat duduk bersama menyelesaikan persoalan yang ada. Terutama pihak Pertamina yang memiliki kewenangan dalam proses distribusi BBM.
“Jika pasokannya kurang silahkan ditambah, jika ada yang bermain, juga harus ditelusuri dan ditindak. Sampai sekarang pihak Pertamina belum memberikan jawaban apa-apa soal ini, Pemprov dan DPRD Kaltim harus panggil mereka” ungkapnya.
Selain itu, GMNI Kaltim katanya juga akan menyurati secara langsung pihak Pertamina. (rcd)





