
BALIKPAPAN – Melonjaknya harga baku tahu dan tempe sejak akhir tahun 2020 lalu, dari yang sebelumnya berkisar Rp 7.500 per kilogramnya, kini sudah mencapai Rp 9.700 di pasar.
Dengan melonjaknya harga tersebut, sehingga mempengaruhi produsen tahu dan tempe. Hal ini seperti yang dirasakan Etik Trisnawati (32), seorang produsen tahu dan tempe di Sumber Rejo 3, Gang Kawi RT 40, Balikpapan Tengah. Ia mengaku pendapatannya berkurang, akibat dari produksi yang dikurangi dari biasanya.
“Kita mengurangi produksi hampir 50 persen. Biasanya kalau tempe produksi itu setiap hari 150 kilogram, dan sekarang hanya 60 sampai 65 kilogram saja,” kata Etik.
Agar tidak merugi dan tetap bisa melakukan produksi saat harga bahan baku naik, dirinya terpaksa harus menaikan harga jual ke pasar. Bahkan sebelumnya dirinya pun juga tidak berani, khawatir daya beli konsumen akan menurun.
“Jadi kita masih tetap bisa produksi. Tidak berani naikan harga ke pasar, daya beli akan turun. Makanya harga tetap lima ribu, tapi kita menyiasatinya dengan mengurangi isi atau takaran untuk kedelainya,” pengakuan Etik.
Naiknya harga baku kedelai ini sebelumnya sudah dapat dirasakannya sejak akhir Desember 2020 lalu. Saat ditanya mengenai dari penyebab melonjaknya harga kedelai tersebut, Etik menduga jika impor yang dilakukan berkurang karena siatusi masih pandemi Covid-19.
“Harganya mulai naik dari akhir Desember. Itu sedikit-sedikit naiknya, hingga menyentuh sembilan ribu per kilogram. Dan ini mau naik lagi katanya. Kita kan pakai kacang impor, jadi mungkin karna virus Corona jadi berkurang,” terangnya.
Selama ini Etik memang selalu menggunakan bahan baku impor dalam melakukan produksi, sebab yang lokal pasokan tidak terlalu mencukupi.
“Yang lokal itu gak ada memang. Atau mungkin gak cukup untuk menyediakan pasokan,” tandasnya. (pcm)
Editor: (dy)



