
Samarinda, Kaltimedia.com — Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kalimantan Timur (Kaltim), Andi Satya Adi Saputra, menilai capaian rata-rata lama sekolah (RLS) di Benua Etam masih membutuhkan perhatian serius. Berdasarkan data terbaru, RLS Kaltim tercatat 9,9 tahun, masih jauh dari target wajib belajar 12 tahun yang dicanangkan pemerintah.
Menurut Andi, angka tersebut mencerminkan bahwa kualitas dan keberlanjutan pendidikan di Kaltim belum sepenuhnya ideal. Bahkan, dalam perspektif pembangunan jangka panjang, ia menilai rata-rata lama sekolah seharusnya bisa didorong hingga lebih dari 12 tahun, bahkan mencapai 13 tahun.
“Melihat kondisi saat ini, ini tentu menjadi pekerjaan rumah bersama. Rata-rata lama sekolah kita masih belum sesuai dengan target nasional,” ujar Andi, Rabu (28/1/2026).
Ia menjelaskan, salah satu faktor yang memengaruhi rendahnya RLS adalah pilihan hidup masyarakat, khususnya lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA). Tidak sedikit lulusan SMA di Kaltim yang memilih langsung bekerja dibandingkan melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi.
Menurutnya, keputusan tersebut dipengaruhi oleh berbagai latar belakang dan pertimbangan masing-masing individu.
“Ada yang melanjutkan pendidikan, tetapi ada juga yang merasa bekerja setelah lulus SMA adalah pilihan terbaik bagi mereka,” jelasnya.
Andi menambahkan, kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi Kaltim, terlebih dengan perannya sebagai daerah penyangga Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara. Keberadaan IKN membutuhkan dukungan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas, kompeten, dan berpendidikan tinggi.
Oleh karena itu, ia mendorong generasi muda Kaltim agar lebih termotivasi untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, tidak hanya sampai strata satu (S1), tetapi juga ke magister (S2) hingga doktoral (S3).
“Pendidikan tinggi memiliki peran strategis dalam menciptakan SDM unggul yang mampu bersaing dan berkontribusi nyata bagi pembangunan daerah,” tegas politisi Partai Golkar tersebut.
Lebih lanjut, Andi menekankan bahwa kualitas SDM akan sangat menentukan daya saing Kaltim ke depan, terutama dalam mendukung visi besar Indonesia Emas 2045, di mana generasi muda menjadi aktor utama pembangunan nasional.
Selain mendorong peran generasi muda, ia juga meminta pemerintah daerah untuk lebih aktif memperluas akses pendidikan. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui penguatan program beasiswa, pemerataan sarana dan prasarana pendidikan, serta perhatian khusus bagi masyarakat di wilayah pedesaan dan daerah terpencil.
“Persoalan pendidikan bukan semata soal angka statistik, tetapi bagaimana memastikan seluruh masyarakat memiliki kesempatan yang adil dan setara untuk mengenyam pendidikan,” pungkasnya. (Rfh)
Editor: Ang





