
Jakarta, Kaltimedia.com – Perkumpulan Transformasi untuk Keadilan (TuK) Indonesia mengungkap keterlibatan tiga bank badan usaha milik negara (BUMN) dalam pembiayaan perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Sumatra Utara dan dikaitkan dengan krisis serta kerusakan lingkungan di wilayah tersebut.
Temuan tersebut disampaikan Kepala Departemen Advokasi dan Pendidikan Publik TuK Indonesia, Abdul Haris, dalam konferensi pers daring pada Senin (22/12/2025).
Haris menjelaskan, berdasarkan pemetaan terhadap 20 bank pemberi pinjaman terbesar kepada perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Sumatra Utara, perbankan asal China tercatat mendominasi pembiayaan. Namun, bank BUMN Indonesia berada di posisi kedua sebagai pemberi pinjaman terbesar.
“Dari pembiayaan atau 20 ranking bank ini, terdapat tiga bank utama di Indonesia atau tiga bank BUMN, yakni Bank Mandiri, BRI, dan BNI. Bank Mandiri menjadi bank terbesar yang membiayai perusahaan-perusahaan yang beroperasi di wilayah Sumatra Utara, dengan nilai pembiayaan sekitar 3 juta dolar AS,” ujar Haris.
Menurut Haris, keterlibatan bank BUMN dalam pembiayaan perusahaan yang berkontribusi terhadap kerusakan lingkungan merupakan temuan baru. Hal ini dinilai bertolak belakang dengan komitmen bank-bank tersebut yang selama ini mengklaim sebagai pelopor keuangan berkelanjutan dan pembiayaan hijau.
“Fakta yang terjadi di Sumatra justru membuktikan sebaliknya. Kerusakan lingkungan hidup memiliki korelasi yang sangat kuat dengan pembiayaan perbankan,” katanya.
TuK Indonesia menegaskan bahwa pembiayaan perbankan tidak dapat dipandang semata sebagai urusan bisnis, karena memiliki dampak langsung terhadap tata kelola dan daya dukung lingkungan.
Haris juga menyinggung bencana yang terjadi di Sumatra Utara belakangan ini, yang menurutnya tidak hanya disebabkan oleh curah hujan tinggi, melainkan akibat melemahnya daya dukung lingkungan karena aktivitas industri skala besar.
Ia merujuk pada analisis Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) yang menyebut peristiwa tersebut sebagai bencana ekologis.
“Ini adalah bencana ekologis, di mana daya dukung dan daya tampung lingkungan sudah tidak mampu lagi menghadapi fenomena alam, termasuk curah hujan tinggi,” jelas Haris.
Lebih lanjut, Haris menyebut sedikitnya terdapat tujuh perusahaan yang teridentifikasi aktif melakukan eksploitasi di Sumatra Utara dan diduga berkaitan dengan terjadinya bencana lingkungan di wilayah tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak perbankan BUMN terkait temuan TuK Indonesia tersebut. (Ang)





