Kolaborasi Starlink dan Samsung Dorong Lahirnya Jaringan 6G Non-Terestrial

Foto: Penampakan lebih dari 4.000 satelit Starlink di orbit rendah bumi (LEO) per Mei 2024. Sumber: (Satellite Map Space)

Samarinda, Kaltimedia.com – Starlink, perusahaan layanan satelit milik Elon Musk, menjalin kemitraan strategis dengan Samsung Electronics untuk mengembangkan chip berbasis kecerdasan buatan (AI) yang memungkinkan perangkat pengguna terhubung langsung ke satelit tanpa memerlukan menara seluler.

Mengutip laporan The Korea Economic Daily, seorang eksekutif senior divisi semikonduktor Samsung diketahui telah bertemu dengan pejabat SpaceX untuk membahas detail teknis dan kemajuan pengembangan chip AI tersebut.

“Pembicaraan sedang berlangsung untuk Samsung bergabung dalam rantai pasokan komponen jaringan 6G non-terestrial SpaceX, yang bertujuan menghubungkan seluruh dunia melalui satelit Starlink-nya,” ujar sumber yang mengetahui pembicaraan itu, dikutip dari The Korea Economic Daily, Senin (3/11/2025).

Kolaborasi ini menjadi bagian dari rencana jangka panjang Starlink menghadirkan jaringan 6G non-terrestrial network (NTN), yakni jaringan komunikasi yang tidak sepenuhnya bergantung pada infrastruktur darat.

Teknologi ini diklaim bakal memungkinkan perangkat seperti smartphone, router bisnis, dan laptop di wilayah terpencil tetap bisa terhubung langsung ke konstelasi satelit Starlink.

Dalam dokumen internal yang diperoleh The Korea Economic Daily, divisi System LSI Samsung sedang mengembangkan chip Exynos baru dengan unit pemrosesan saraf atau neural processing unit (NPU) yang berfungsi mengoptimalkan koneksi satelit secara real-time.

Chip tersebut mampu memprediksi lintasan satelit dan meningkatkan kemampuan identifikasi sinyal hingga 55 kali lipat serta prediksi kanal 42 kali lipat dibandingkan versi Exynos saat ini.

Samsung menilai kolaborasi ini sebagai pergeseran strategi dari dominasi pasar smartphone dan memori, menuju pengembangan infrastruktur komunikasi masa depan.

“Langkah ini menjadi bagian dari perubahan arah strategis perusahaan menuju jaringan generasi berikutnya,” ujar perwakilan Samsung dalam pernyataannya.

Sementara itu, Starlink disebut telah menyiapkan investasi besar, yakni sekitar 17 miliar dollar AS atau sekitar Rp257 triliun, untuk pengembangan spektrum dan frekuensi layanan 6G NTN di masa depan.

Para analis menilai, teknologi chip satelit 6G ini berpotensi mengubah lanskap industri telekomunikasi global. Pasar jaringan non-terestrial diperkirakan dapat mencapai nilai hingga 530 miliar dollar AS atau sekitar Rp8.798 triliun pada tahun 2040.

Kendati demikian, sejumlah ahli menilai masih ada tantangan teknis, seperti efisiensi daya tinggi pada modem berbasis AI agar tetap hemat energi dan mudah digunakan pada perangkat portabel. (AS)

Share

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *