Cerita dari Martabe: Menambang dengan Hati, Menjaga Alam dengan Nurani

Gambar saat ini: Foto: Pemantauan dan pengawasan berkala terhadap kualitas air sisa proses yang dialirkan ke Sungai Batang Toru bersama Tim Terpadu Pemantau Kualitas Air.. Sumber: agincourtresources.
Foto: Pemantauan dan pengawasan berkala terhadap kualitas air sisa proses yang dialirkan ke Sungai Batang Toru bersama Tim Terpadu Pemantau Kualitas Air. Sumber: Agin Court Resources.

Samarinda, Kaltimedia.com – Di tengah lebatnya hutan tropis Batang Toru, Sumatera Utara yang menjadi rumah bagi beragam kehidupan, sinar matahari menembus celah daun dan memantul di permukaan sungai yang tenang. Di kejauhan, terdengar suara primata yang berayun di pepohonan, mereka meniti jembatan-jembatan buatan manusia yang menggantung di atas lembah.

Namun ini bukan jembatan biasa. Ini adalah “jembatan kehidupan” hasil inovasi dari PT Agincourt Resources (pengelola Tambang Emas Martabe) untuk memastikan bahwa hutan dan tambang bisa berjalan berdampingan dalam harmoni.

Tambang Jadi Sahabat Alam

Sejak awal beroperasi, Agincourt Resources menyadari bahwa keberlanjutan bukan sekadar tanggung jawab perusahaan, melainkan amanah bagi bumi dan masyarakat sekitar. Di area yang dahulu sering dicap kontras dengan kata “konservasi”, kini tumbuh narasi baru: tambang yang hidup berdampingan dengan alam.

“Sebanyak 13 jembatan arboreal telah dipasang di berbagai titik di Tambang Emas Martabe. Jembatan ini memberi fleksibilitas bagi primata untuk beradaptasi dengan perubahan lingkungan sekaligus mengurangi risiko konflik antara satwa dan manusia,” jelas Syaiful Anwar, Superintendent Environmental Site Support Agincourt Resources (Agincourt Resources, 2024).

Inovasi Jembatan Arboreal ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam menjaga keberlanjutan habitat satwa, khususnya primata di ekosistem Batang Toru. Dengan pendekatan yang ilmiah namun berjiwa sosial, Agincourt tidak sekadar menanam pohon, tetapi menghubungkan kehidupan.

Jembatan-jembatan ini menjadi simbol sederhana namun bermakna dalam menjaga keanekaragaman hayati, bahwa pembangunan dan konservasi tak harus bertolak belakang, melainkan bisa saling menopang.

Air Kehidupan

Air adalah denyut kehidupan bagi manusia, bagi hutan, bagi seluruh ekosistem. Karena itulah, Agincourt Resources menempatkan pengelolaan air sebagai jantung dari kebijakan lingkungan mereka.

“Keterlibatan semua pihak memastikan proses pemantauan berjalan lebih efektif, terpercaya, dan transparan. Hasil analisis menunjukkan bahwa tingkat keasaman (pH) dan unsur lain memenuhi baku mutu lingkungan, sehingga air sisa pengolahan yang dialirkan ke Sungai Batang Toru aman sesuai regulasi,” kata Mahmud Subagya, Manager Environmental PT Agincourt Resources (Agincourt Resources, 2025).

Keterbukaan hasil pemantauan air sisa proses kepada publik setiap semester adalah praktik ESG (Environmental, Social, Governance) yang nyata. Di saat banyak industri memilih jalan sunyi, Agincourt justru memilih transparansi sebagai bentuk tanggung jawab moral.

Langkah ini menunjukkan bahwa tambang bisa menjadi bagian dari solusi, bukan sumber masalah.

Menanam Harapan, Bukan Sekadar Pohon

Foto: Pulihkan lingkungan melalui berbagai upaya reklamasi dan revegetasi. Salah satu teknik andalan yang digunakan adalah hydroseeding. Sumber: Agin Court Resources.
Foto: Pulihkan lingkungan melalui berbagai upaya reklamasi dan revegetasi. Salah satu teknik andalan yang digunakan adalah hydroseeding. Sumber: Agin Court Resources.

Di kawasan pesisir Sibolga, Agincourt Resources bekerja sama dengan masyarakat menanam 60.000 pohon mangrove dan menebar 50.000 bibit kerang serta kepiting.

Aksi sederhana yang tumbuh menjadi gerakan besar, menyembuhkan pesisir dari abrasi, sekaligus membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat.

“Melalui Aksi Tanam Mangrove ini, kami merealisasikan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan, khususnya yang berkaitan dengan pengembangan masyarakat dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan,” ungkap Muliady Sutio, Presiden Direktur PT Agincourt Resources (ResourcesAsia, 2024)

Kegiatan ini tidak hanya menanam pohon, tapi juga menanam rasa memiliki.

Masyarakat pesisir kini tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi penjaga alam bersama. Mereka menyadari bahwa laut yang bersih dan mangrove yang rindang adalah warisan paling berharga untuk anak cucu mereka.

Harmoni di Batang Toru

Di hutan Batang Toru yang menjadi rumah bagi Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) spesies langka yang hanya tersisa sekitar 800 individu di dunia Agincourt Resources berkolaborasi dengan Universitas Nasional dan para peneliti primata Asia untuk melindungi habitat alami satwa tersebut.

Langkah kolaboratif ini mendapat apresiasi di Asian Primate Symposium 2024, di mana upaya konservasi tambang ini dianggap sebagai model integrasi antara industri dan pelestarian satwa liar.

Tambang Martabe kini bukan hanya dikenal karena emasnya, tetapi karena komitmennya terhadap kehidupan.

“Topik keberlanjutan dalam kegiatan pertambangan sangat menarik saat ini, dan memang penting untuk diimplementasikan. Di sisi lain, publik sering melihat kesan kontradiktif antara tambang dan lingkungan. Namun yang hendak kami dorong adalah keberlanjutan yang mengedepankan kolaborasi mendalam dengan pemangku kepentingan,” kata Ruli Tanio, Wakil Presiden Direktur PT Agincourt Resources (Indonesian Mining Association, 2024).

Tambang yang Menghidupkan, Bukan Menghabiskan

Dalam prinsip ESG, tanggung jawab sosial menjadi pilar penting. Di sekitar Martabe, program pemberdayaan masyarakat mulai dari pendidikan lingkungan, pelatihan usaha kecil, hingga konservasi air telah mengubah wajah sosial ekonomi daerah.

Desa-desa di sekitar tambang kini menjadi desa binaan yang mandiri secara energi, ekonomi, dan sosial.

“Kami tidak akan henti-hentinya berkontribusi positif terhadap kesejahteraan sosial dan kelestarian lingkungan di wilayah operasi kami,”ujar Muliady Sutio, Presiden Direktur PTAR (IMA, 2024).

Harmoni yang Menular

Kisah Agincourt Resources adalah refleksi dari arah baru industri tambang Indonesia—bahwa tanggung jawab terhadap bumi bukan hambatan bisnis, melainkan landasan keberlanjutan.

Bahwa ESG bukanlah tren, tapi kompas moral yang menuntun industri agar tumbuh tanpa meninggalkan jejak luka bagi alam dan masyarakat.

Kini, di setiap langkah pekerja tambang yang meniti jalan menuju lokasi kerja, mereka tahu bahwa tugas mereka lebih dari sekadar menggali mineral. Mereka sedang menambang masa depan—masa depan yang lebih hijau, lebih manusiawi, dan lebih berimbang antara kemajuan dan kehidupan.

Menambang Cahaya, Bukan Sekadar Emas

Di bawah langit Batang Toru, ketika matahari tenggelam di balik hutan tropis, sinar terakhirnya memantul di permukaan air sungai, seolah membisikkan pesan:

bahwa keberlanjutan bukan sekadar proyek, tapi perjalanan cinta manusia kepada bumi.

Agincourt Resources telah membuktikan bahwa tambang tidak harus menghancurkan, tambang bisa menyembuhkan.

Karena di setiap jembatan yang dibangun untuk primata, di setiap tetes air yang dijaga, dan di setiap pohon mangrove yang tumbuh di pesisir, tersimpan satu janji:

bahwa emas sejati bukanlah yang digali dari bumi, melainkan yang ditanam dalam hati. (Ang)

Share

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *