Abdul Rohim Desak Pemkot Segera Buka Pasar Pagi, Fokus Pulihkan Ekonomi Pedagang Lama

Anggota DPRD Samarinda, Abdul Rohim.

Samarinda – Anggota Komisi III DPRD Samarinda, Abdul Rohim, menyoroti lambannya pembukaan kembali Pasar Pagi yang hingga kini belum terealisasi.

Menurutnya, keterlambatan ini berimbas langsung pada kondisi ekonomi para pedagang lama yang omzetnya terus menurun sejak proses renovasi dimulai.

Rohim sapaan akrabnya mengungkapkan, para pedagang telah menyampaikan berbagai keluhan mengenai kondisi saat ini. Omzet yang menurun drastis menyebabkan pelaku usaha kecil kehilangan stabilitas ekonomi, terlebih di tengah situasi perekonomian nasional yang sedang mengalami kontraksi.

“Pemerintah perlu menyadari bahwa para pedagang mengalami penurunan pendapatan yang serius. Ini harus menjadi perhatian bersama,” tegas Rohim saat diwawancarai awak media, pada Rabu (25/6/2025).

Maka dari itu, ia mendorong agar pembukaan kembali Pasar Pagi tidak lagi ditunda-tunda. Sebelumnya, Pemkot disebut telah menjanjikan pembukaan kembali Pasar Pagi pada akhir tahun 2024. Namun, karena berbagai kendala teknis, rencana tersebut mundur tanpa kejelasan baru. Hal ini menurut Abdul Rohim perlu segera dibenahi agar ekosistem usaha kembali pulih.

Ia juga menyinggung belum adanya laporan resmi dari dinas terkait kepada Komisi III mengenai kelanjutan proses relokasi pedagang. Sementara itu, turut muncul informasi diduga bahwa pelaku usaha berbasis daring, seperti pedagang live streaming, akan mulai difasilitasi di area pasar.

“Kalau memang ada ruangnya, tidak masalah pedagang online masuk. Tapi yang utama tetap harus mengakomodasi pedagang lama yang sudah punya lapak dan surat penguasaan sejak sebelum renovasi,” ujarnya.

Rohim mengingatkan bahwa jika pedagang lama justru tidak mendapatkan tempat yang layak, sementara pelaku usaha baru diakomodasi lebih dulu, ini bisa memicu ketegangan dan konflik horizontal di lapangan.

Ia juga menyoroti desain lapak baru yang dikabarkan lebih kecil dibanding sebelumnya. Kondisi ini dikhawatirkan tidak memadai bagi pedagang yang memiliki stok barang dalam jumlah besar.

“Kalau lapaknya terlalu kecil, jelas tidak cukup menampung dagangan mereka. Ini harus dibicarakan secara terbuka agar tidak menimbulkan masalah baru,” imbuhnya.

Rohim menegaskan bahwa prioritas utama saat ini adalah memulangkan pedagang lama ke tempat semula dan menyampaikan informasi secara terbuka kepada publik. Transparansi dinilai penting agar tidak ada pihak yang merasa dirugikan.

“Intinya segera mengembalikan ekosistem Pasar Pagi dan prioritaskan pedagang lama. Jangan sampai mereka yang justru nanti terpinggirkan,” tutupnya. (Adv/Df)

Share

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *