
SAMARINDA – Komite Olahraga Nasional Indonesia Provinsi Kalimantan Timur (KONI Kaltim) mengadakan rapat evaluasi bersama pelatih cabor yang berlaga di ajang PON XXI/2024 di Aceh dan Sumut, pada Selaaa (1/10/2024) siang.
Rapat yang digelar di Ruang Rapat Lantai II KONI Kaltim itu, turut juga dihadiri hampir seluruh 59 cabor yang ikut berpatisipasi dalam PON dan menyampaikan hasil dan kendala selama bertanding.
Usai rapat berlangsung, Wakil Ketua I KONI Kaltim, Ego Arifin, yang juga sebagai pimpinan rapat menjelaskan, kendala utama yang dihadapi berdasarkan pandangan matanya setelah melihat pemaparan dari pelatih yakni soal mental.
“Ada beberapa yang dominan mental atlet masih di bawah, contoh kita berhadapan dengan atlet nasional mereka goyang kemudian berhadapan tuan rumah dia goyang. Artinya kepercayaan dirinya masih di bawah kendali emosi mereka,” ucap Ego Arifin kepada awak media.
Hal itu juga terbukti perolehan medali perak yang lebih banyak, padahal bisa mendapatkan emas. Namun karena mentalnya kurang, akhirnya lepas meraih juara satu.
“Masalah mental itu berdampak pada penampilan, contohnya perak banyak mereka di final ketemu atlet Pelatnas dan banyak atlet junior ke dewasa itu mentalnya,” katanya.
Lebih lanjut, Ego juga menjelaskan permasalahan kedua yakni soal tidak bisanya cabor outdoor beradaptasi dengan venue pertandingan lantaran tidak sesuai dengan venue latihan yang dijalani selama program Pelatda.
Kendati demikian permasalahan yang ada pada cabor ini tentunya menjadi catatan tersendiri bagi KONI Kaltim untuk mengevaluasi dan memperbaiki segala kekurangan yang ada bersama cabor.
“Kedua masalah sportifitas, itu jangan ditimbulkan dan itu non teknis dan sudah keputusan wasit. Ada lagi cabor outdoor, itu mereka kurang beradaptasi lapangan kenapa? Karena tuan rumah juga gak mau kasih kan jadi alasannya itu mereka gak sempat beradaptasi dengan venue pertandingan, sehingga mereka tampil di lapangan gak sesuai dengan latihan,” ujar Ego menjelaskan.
Selain atlet, pelatih cabor juga diharapkan bisa mengevaluasi diri dalam membaca mentalitas anak asuhnya saat menurun jelang pertandingan. Sebab, orang pertama yang bersama dengan atlet saat hari pertandingan hanya pelatihnya. (Dy)





