
SAMARINDA – Sebelum memasuki program Pemusatan Latihan Daerah (Pelatda), KONI Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) sudah menjalankan berbagai macam tahapan, dari test kesehatan, pelatihan SDM Pelatih dan kini test fisik terhadap atlet yang dipersiapkan.
Test fisik dilakukan sebagai bentuk persiapan serius kontingen Kaltim untuk meraih prestasi terbaiknya menatap Pekan Olahraga Nasional (PON) ke-21 mendatang.
Konsultan Teknik KONI Kaltim, Dikdik Zafar Sidik menerangkan saat memasuki tahapan pra persiapan umum. Di mana test yang tengah dilakukan ini untuk setiap cabor dibedakan parameternya, dengan mencontohkan cabor beladiri.
“Seperti bela diri itu harus ada test yang menggambarkan skill tapi kontribusi dari fisik nanti ada ke ciri khasan dari olahraga. Contoh Judo, itu tesnya ada namanya Judo fitnes test yang mencerminkan bagaimana bantingan yang harus dilakukan berapa denyut nadinya kemudian di dalam waktu itu mampu berapa kali bantingan lalu kelelahannya diberapa denyut akhir,” ucap Dikdik.
Segala detail mengenai denyut nadi tersebut bisa di komparasikan dengan data yang juara. Dari situ bisa melihat kelebihan dan kekurangan yang bisa dimiliki oleh seorang atlet.
“Sehingga kita bisa tau disitu kalau bantingannya cuma dapat 10 kali kita liat dipertandingan yang juara itu berapa kali misalkan 40 kali kita miss 30 kali dengan denyut nadi tinggi berarti kita kurang ini. Nanti kita akan mengelola atas dasar itu kita coba koreksi dan evaluasi,” katanya lanjut menerangkan.
Test fisik ini rencananya akan berjalan selama 3 tahap, kini yang pertama, kemudian pertengahaan saat menjalani Pelatda, kemudian 1 bulan sebelum menjelang PON terselenggara.
Dikdik menjelaskan test fisik tahapan berikutnya nanti akan berbeda seperti tahap pertaman yang melakukannya secara bersamaan dengan cabor lain. Apalagi selama terpusatkan latihannya, akan mengatur jadwal dengan cabor apabila ada yang hendak melakukan try out ke luar daerah.
“Porsinya ke cabor karena itu masuknya ke parameter dan test nya sudah tidak bersama-sama gini nanti percabor. Masing-masing berbeda nanti juga kita lihat uji cobanya kapan. Kita tidak bisa memaksa test pada saat mereka uji coba. Misalkan cabor A santai tapi kita tidak bisa lakukan karena ada cabor B yang sedang uji coba, karena uji coba itu bisa kita gunakan sebagai test,” ujar Dikdik menjelaskan.
Dikdik menyebutkan jika selama test fisik berjalan, pihaknya tidak merubah arah program latihan cabor. Di mana selama Pelatda nanti, timnya akan memantau progres persiapan atlet secara signifikan. (Dy)





