
Washington, Kaltimedia.com – Sejumlah negara anggota NATO menyatakan tidak akan ikut dalam rencana Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk memblokade Selat Hormuz, terutama terhadap kapal-kapal Iran.
Penolakan ini datang dari sekutu utama AS di Eropa, termasuk Inggris dan Prancis, yang menegaskan tidak ingin terseret lebih jauh dalam konflik antara AS dan Iran.
Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, menyatakan secara terbuka bahwa negaranya tidak mendukung kebijakan blokade tersebut.
“Kami tidak mendukung blokade ini,” ujarnya, Selasa (14/4/2026).
Ia juga menegaskan bahwa Inggris tidak ingin terlibat dalam eskalasi konflik yang lebih luas.
“Keputusan saya sangat jelas: apa pun tekanannya dan tekanannya cukup besar kami tidak akan terseret ke dalam perang,” tambahnya.
Sikap serupa disampaikan Presiden Prancis, Emmanuel Macron. Ia mengusulkan pembentukan misi multinasional bersama sejumlah negara untuk memulihkan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
“Misi ini bersifat defensif dan terpisah dari pihak-pihak yang berperang, dan akan dikerahkan segera setelah situasi memungkinkan,” ujarnya.
Langkah ini dinilai sebagai alternatif untuk menjaga stabilitas tanpa harus terlibat langsung dalam konflik militer.
Sebelumnya, Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, menyampaikan bahwa AS menginginkan komitmen konkret dari negara anggota untuk mengamankan kawasan tersebut.
Namun, hingga kini belum ada kesepakatan kolektif dari 32 negara anggota NATO terkait pembentukan misi bersama.
Sejumlah negara Eropa bahkan menyatakan hanya bersedia terlibat jika ada gencatan senjata berkelanjutan dan jaminan keamanan dari Iran terhadap kapal mereka.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan, menilai penyelesaian terbaik adalah melalui jalur diplomasi.
Ia juga mengingatkan bahwa pembentukan kekuatan internasional di kawasan tersebut bukan hal mudah dan berpotensi memperumit situasi.
Rencana blokade ini menjadi sumber ketegangan baru antara AS dan sekutu-sekutunya di Eropa. Terlebih, Trump sebelumnya mengancam akan menarik AS dari NATO serta mengurangi kehadiran militer di Eropa.
Meski demikian, militer AS kemudian menjelaskan bahwa blokade yang direncanakan hanya akan menyasar kapal yang menuju atau berasal dari pelabuhan Iran. (Ang)





