BMKG: Samarinda Relatif Aman dari Ancaman Siklon Tropis di Puncak Musim Hujan

Foto: lustrasi prediksi curah hujan tinggi dari BMKG pada tahun-tahun sebelumnya. Sumber: Istimewa.
Foto: lustrasi prediksi curah hujan tinggi dari BMKG pada tahun-tahun sebelumnya. Sumber: Istimewa.

Samarinda, Kaltimedia.com – Kekhawatiran masyarakat terhadap potensi bencana hidrometeorologi kembali mengemuka seiring memasuki puncak musim hujan. Rentetan banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di luar Kalimantan dalam beberapa waktu terakhir turut memicu kekhawatiran serupa di Kalimantan Timur, khususnya Kota Samarinda.

Menanggapi hal itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Samarinda memastikan kondisi cuaca di wilayah Samarinda dan sebagian besar Kalimantan Timur masih tergolong aman dari ancaman bencana hidrometeorologi berskala besar, terutama yang dipicu oleh siklon tropis.

Prakirawan Cuaca BMKG Samarinda, Gilang Arya, menjelaskan bahwa bencana banjir dan longsor yang terjadi di wilayah seperti Sumatera umumnya dipicu oleh terbentuknya siklon tropis yang menyebabkan hujan ekstrem dengan intensitas tinggi dalam waktu singkat.

“Kasus di Sumatera banyak dipengaruhi oleh siklon tropis. Curah hujan menjadi sangat tinggi dan berlangsung cepat, lalu diperparah oleh faktor lain seperti perubahan tata guna lahan dan sistem drainase yang kurang memadai,” ujar Gilang, Senin (15/12/2025).

Menurutnya, secara geografis Kalimantan Timur berada di wilayah yang tidak mendukung pembentukan siklon tropis. Kedekatan dengan garis khatulistiwa membuat gaya Coriolis—energi utama pembentuk siklon—menjadi sangat lemah.

“Wilayah seperti Samarinda berada dekat lintang nol derajat. Di kondisi ini, siklon tropis hampir tidak mungkin terbentuk,” jelasnya.

Meski relatif aman dari ancaman langsung siklon tropis, BMKG tetap mengingatkan bahwa dampak tidak langsung masih bisa dirasakan. Siklon yang terbentuk di wilayah lintang lebih tinggi, seperti di sekitar Filipina, Kalimantan Utara, atau bagian utara Sulawesi, dapat memengaruhi pola cuaca di Kaltim.

“Dampaknya bisa berupa perubahan pola angin dan distribusi uap air, yang justru bisa mengurangi atau menggeser intensitas hujan di wilayah kita,” terang Gilang.

BMKG Samarinda menegaskan bahwa kewaspadaan tetap diperlukan, mengingat musim hujan secara alami tetap membawa potensi banjir dan longsor, terutama di daerah dengan sistem drainase yang kurang optimal atau wilayah rawan longsor.

“Kami terus memantau kondisi atmosfer dan curah hujan. Informasi terbaru akan kami sampaikan secara rutin agar masyarakat bisa lebih siap dan waspada,” tutupnya. (Rfh)

Editor: Ang

Share

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *