
Samarinda, Kaltimedia.com – Pernyataan kontroversial yang dilontarkan oleh Timothy Ronald, sosok yang dikenal sebagai ‘Raja Kripto Indonesia’, tengah menjadi sorotan tajam publik. Dalam sebuah siniar, ia menyebut bahwa para penggiat gym—terutama mereka yang serius membentuk tubuh bukanlah orang-orang yang pintar.
“Menurut gue, orang yang suka nge-gym, yang sampai ‘jadi’ banget badannya, itu enggak mungkin sepinter itu,” ucapnya dalam cuplikan yang memicu reaksi keras dari berbagai kalangan.
Pernyataan ini dinilai menyederhanakan, bahkan merendahkan, aktivitas olahraga yang telah terbukti secara ilmiah membawa manfaat besar bagi fisik maupun mental seseorang.
Menanggapi pernyataan tersebut, dr. Andhika Raspati, spesialis kedokteran olahraga, menyampaikan kritik tajam. Ia menilai bahwa komentar seperti itu dapat menyesatkan dan berpotensi menjauhkan masyarakat dari gaya hidup sehat dan aktif.
“Enggak ada olahraga untuk orang bodoh. Setiap olahraga itu ada ilmunya, termasuk gym,” jelas dr. Andhika.
Menurutnya, gym bukan sekadar angkat beban. Aktivitas ini menuntut pemahaman yang cukup kompleks: mulai dari pengetahuan tentang anatomi otot, teknik gerakan yang benar, pemilihan beban, perhitungan repetisi, hingga pembagian latihan berdasarkan kelompok otot.
“Gerakannya benar atau enggak, berapa beban yang harus diangkat, berapa repetisi, terus kapan ngebagi bagian tubuh itu semua butuh pemikiran,” tambahnya.
Tak hanya latihan fisik, aspek nutrisi juga menjadi bagian penting dari rutinitas gym yang melibatkan proses berpikir kritis. Mulai dari menghitung kebutuhan protein, mengatur asupan makanan harian, hingga menyesuaikan dengan tujuan latihan.
Fakta Ilmiah: Gym Tingkatkan Fungsi Otak
Lebih dari sekadar membentuk tubuh, aktivitas fisik seperti gym ternyata juga berdampak positif terhadap fungsi otak. Olahraga terbukti memperlancar aliran darah ke otak dan meningkatkan produksi neurotransmitter penting seperti dopamin dan endorfin—zat kimia yang berperan dalam regulasi suasana hati, motivasi, dan konsentrasi.
“Pasti lah akan membuat otak menjadi lebih optimal fungsinya,” ujar dr. Andhika.
Manfaat ini juga diperkuat oleh data dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) di Amerika Serikat. Menurut CDC, olahraga teratur dapat membantu, meningkatkan daya ingat, memperbaiki suasana hati, menurunkan risiko gangguan mental seperti kecemasan dan depresi, mencegah penurunan fungsi kognitif pada usia lanjut.
Salah satu studi bahkan menemukan bahwa lansia yang tidak aktif secara fisik memiliki risiko dua kali lipat lebih besar mengalami penurunan kognitif dibanding mereka yang menjalani gaya hidup aktif.
Pernyataan Timothy Ronald mencerminkan stereotip lama yang menganggap penggiat gym hanya mengandalkan otot tanpa otak. Padahal, kenyataannya justru sebaliknya. Gym bukan hanya ajang pamer fisik, tapi sebuah proses panjang yang melibatkan perencanaan, pengetahuan, dan disiplin tinggi.
Melekatkan stigma negatif pada gaya hidup sehat bukan hanya keliru, tapi juga kontraproduktif dalam upaya mendorong masyarakat hidup lebih aktif dan sadar kesehatan.
Satu hal yang pasti: cerdas dan sehat bukan pilihan yang saling meniadakan. Keduanya justru saling memperkuat. (Ang)



