
Kutai Kartanegara, Kaltimedia.com – Perlu adanya pengembangan pada sektor pertanian untuk menjaga kestabilan kebutuhan pangan masyarakat. Terutama beras, sebab komoditi tersebut merupakan kebutuhan pokok pangan bagi masyarakat luas.
Desa Beloro yang berlokasi di Kecamatan Sebulu, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) ini, menjadi salah satu wilayah pertanian yang perlu mendapat bantuan pengembangan dalam sektor tersebut.
Ada 6 kelompok tani yang berperan penting dalam ketahanan pangan masyarakat di Desa Beloro. Desa yang memiliki luas wilayah 142,50 kilometer tersebut, dalam sektor pertaniannya memang diketahui punya potensi yang cukup besar.
Terdapat 60 persen warga yang merupakan petani padi, hal itu diungkapkan Muhammad Muhtar Kepala Desa Beloro.
Kemudian, sebanyak 3 ton beras per minggunya dapat dihasilkan oleh kelompok tani di Desa Beloro. Hal ini tentunya memiliki peluang besar untuk dikembangkan. Sebab selama ini pemasaran mereka hanya sebatas lingkungan desa saja.
“Hasilnya 3 ton beras per minggu. Sejauh ini hanya di pasarkan bagi warga desa saja. Belum ada impor ke luar,” ungkapnya saat diwawancarai awak media, Sabtu (27/5/2023).
Meski telah berhasil memproduksi beras sendiri, namun beras hasil para petani di Desa Beloro kerap dijual kembali kepada warganya saja. Hal itu lantaran kurangnya sarana dan prasarana yang mendukung pertanian di desa tersebut.
Melihat potensi pertanian yang dimiliki oleh Desa Beloro, Muhammad Muhtar berharap adanya bantuan dari pemerintah untuk mempermudah pemasaran mereka agar bisa bersaing dengan produk impor lainnya.
“Untuk padi pemasarannya masih sebatas di desa Bloro, dan hasil taninya kadang tidak menentu,” ucapnya.
Ia juga berharap adanya bantuan sarana dan prasarana dari pemerintah seperti pembangunan kanal air untuk melindungi persawahan yang ada di Desa Beloro dari banjir dan kekeringan yang bisa mengakibatkan gagal panen.
“Sarana dan prasarana kami kurang menunjang, sejauh ini yang warga keluhkan sarana dan prasarananya,” jelasnya.
Hal itu dimintanya, sebab areal pertanian kerap kebanjiran saat musim hujan, lalu kekeringan di musim kemarau sehingga pengelolaan lahan pertanian tidak maksimal.
“Saat air hujan masuk ke sawah jadi banjir dan itu akan menyebabkan gagal panen, Kami mengharapkan dukungan pemerintah agar berjalan terus sehingga kami dapat meningkatkan produktifitas pertanian,” pungkasnya.



