
BALIKPAPAN – Satu per satu investor pembangunan Ibukota Negara (IKN) Nusantara dikabarkan mundur. Setelah perusahaan keuangan multinasional asal Jepang, Softbank memutuskan batal berinvestasi di IKN Nusantara.
Mengikuti jejak Sofbank, dikabarkan Dua konsorsium pembangunan megaproyek di Kalimantan Timur ini juga menarik diri. Meski belum jelas konsorsium yang dikabarkan mundur, kabar ini tentu menjadi pukulan bagi pemerintah untuk mendapatkan kepercayaan publik pada pembangunan IKN Nusantara.
Kepercayaan publik akan semakin sulit didapat, setelah SoftBank, membatalkan komitmennya untuk tanam modal dana hingga 40 miliar dolar AS dalam proyek tersebut.
Pada sisi lain, pemerintah telah menggencarkan pencarian investor untuk pembangunan IKN. Terbaru, ada dua negara yang tengah dijajaki yakni Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA).
Terkait hal itu, Direktur Center of Economic and Law Studie (Celios), Bhima Yudhistira, mengatakan mundurnya perusahaan keuangan multinasional asal Jepang, Softbank, bukan menjadi satu-satunya sebab dua konsorsium yang belum diungkap namanya tersebut membatalkan menanamkan modalnya di megaproyek IKN.
“Menarik kerja sama investasi tentu tidak mudah. Bukan saja karena efek softbank mundur, tapi keraguan investor juga muncul karena banyak faktor fundamental,” ujar Bhima, Selasa (29/3/2022) dikutip dari rmoljabar.id.
“Pengalaman komitmen investasi di luar dari konteks IKN tidak sedikit yang mangkrak, bahkan macet dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, apalagi menarik investasi sebesar IKN,” sambungnya.
Selain itu, Bhima juga melihat pasca mundurnya Softbank banyak investor yang ragu berinvestasi di IKN lantaran instrumen persiapan pemindahan ibu kota negara dianggap para investor belum matang. Di samping itu juga ada faktor global.
“Karena belum jelasnya proposal teknis dan jaminan penduduk IKN dalam jangka panjang. Situasi konflik di Ukraina juga membuat risiko berinvestasi di proyek infrastruktur cenderung meningkat,” ungkapnya.



