
SAMARINDA – Terkait pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) seperti yang disampaikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim beberapa waktu lalu, bisa digelar jika para guru sudah melakukan vaksinasi secara maksimal.
Tetapi untuk di wilayah provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) sendiri, Mendikbud menyatakan belum bisa melakukan PTM. Hal tersebut dikarenakan adanya faktor seperti minimnya pengawasan guru maupun orangtua ketika pulang sekolah.
Sehingga hal ini yang membuat pemprov Kaltim menyatakan tidak akan menggelar PTM nantinya. Seperti yang dikatakan oleh Sekdaprov Kaltim Muhammad Sa’bani, para guru maupun sekolah harus mempunyai kesiapan matang. Oleh karena itu, orang tua murid dan guru harus lebih bersabar lagi
Dirinya juga mengakui saat ini pembelajaran daring dirasakan beberapa orang sudah dalam fase sangat membosankan. Untuk itu sekaligus menunggu turunnya angka kasus Covid-19 dan kesiapan sekolah pun, para guru diminta untuk terus berinovasi dalam memberikan materi secara daring.
“Tentu diperlukan inovasi para guru untuk bagaimana memotivasi anak didik dan orang Tua memaklumi Karena tidak mudah mendidik anak itu,” ucap Muhammad Sa’bani, Selasa (04/05/2021).
Lebih lanjut jika PTM tetap dilaksanakan, maka di khawatirkan akan terjadi kecemburuan sosial antara murid satu dengan lainnya. Seperti murid satunya masuk sekolah dan lainnya melakukan pembelajaran online berpotensi murid-murid merasa iri.
Oleh karenanya, Sa’bani meminta kepada pihak sekolah untuk menggodok pola pembelajaran kedepannya jika PTM sudah diperbolehkan. Meskipun jumlah murid dibatasi, sekolah pun pastinya akan mengalami kerumunan murid-murid.
Seperti contoh jika satu kelas dapat menampung 30 hingga 40 murid saja, hal ini masih dirasakan masih cukup banyak. Apalagi satu sekolah memiliki puluhan kelas. Meskipun jumlah murid tiap kelas dibatasi, kerumunan di sekolah masih tidak dapat dijelaskan.
“PTM pun dibatasi murid iri juga. Misal 20 orang. Dalam ruangan 20 orang per 20 kelas jadi 400 orang. istirahat kemana ngumpul dimana ini jadi masalah. tapi, tentu saja guru dituntut lagi untuk bagaimana mampu memberikan semangat gairah dan motivasi,” ucapnya. (pry)
Editor: (dy)



