
SAMARINDA – Fly Ash dan Bottom Ash (FABA) kini telah dihapus oleh Pemerintah dari daftar limbah yang dapat dikatakan berbahaya dan beracun. FABA sendiri merupakan limbah padat hasil dari pembakaran batu bara di PLTU, boilerbdan tungku industri untuk bahan baku konstruksi.
Dengan adanya kebijakan pemerintah tersebut, menjadi sorotan dari berbagai organisasi lingkungan hidup. Seperti Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) yang berkomentar terkait penghapusan FABA sebagai limbah B3.
Kordinator Jatam Nasional Merah Johansyah dalam konferensi pers yang digelar secara virtual, pada Jumat (12/3/2021) mengatakan dengan adanya penghapusan FABA dari daftar B3 ini semakin memberikan banyak dampak negatif bagi masyarakat khususnya di sekitar tambang maupun pembangkit listrik menggunakan energi batubara.
Bahkan dirinya memberikan contok seperti salah satu perusahaan yanga berada di Kalimantan Timur (Kaltim), tepatnya di pertengahan daerah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) antara Kutai Kartanegara (Kukar). Ia menilai, hal itu menjadi salah satu contoh memberikan dampak negatif bagi masyarakat. Salah satunya warga desa Santan Ulu dan Ilir yang berada dekat perusahaan tersebut.
“FABA menjadi salah satu debu dan abu Batubara mulai dari pembongkaran Batubara sampai pengangkutan menghasilkan debu lalu pembakaran di pltu menjadi abu sisanya menjadi FABA dan sisanya mengendap di dalam tubuh manusia,” ucap Merah Johansyah.
Johansyah juga mengaku, ia menerima laporan dari masyarakat desa tersebut yang mengalami berbagai macam penyakit, dari gangguan pernapasan hingga kerusakan organ tubuh. Melihat adanya hal tersebut, karena masyarakat yang hidup di lingkungan sekitar perusahaan tambang itu menghirup abu yang dihasilkan produksi maupun distribusi batubara.
“Warga yang jaraknya kurang lebih 500 meter apalagi saat musim panas (kemarau) debunya lebih hebat lagi terutama RT 4 Dan & 5 warga mengeluh sesak napas dan batuk-batuk,” ungkapnya.
Dalam konfrensi pers yang digelar secara virtual tersebut, selain dari Jatam, turut juga di hadiri Walhi, Trend Asia dan Dosen dari Universitas Airlangga. (pry)
Editor: (dy)



