BMKG: Puncak Musim Hujan 2025/2026 Dimulai, Waspadai Bencana Hidrometeorologi di Sejumlah Wilayah

Foto: Paparan materi Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati dalam konferensi pers Kesiapsiagaan Hadapi Puncak Musim Hujan 2025/2026. (Tangkapan Layar Youtube/Info BMKG)

Jakarta, Kaltimedia.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau seluruh masyarakat Indonesia untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi hujan sedang hingga lebat seiring masuknya sebagian besar wilayah Tanah Air ke puncak musim hujan 2025/2026.

Kondisi ini dipicu oleh dinamika atmosfer yang aktif dan berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, serta angin kencang.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menjelaskan, dalam beberapa hari terakhir hujan berintensitas sedang hingga lebat melanda sebagian besar wilayah Jawa bagian barat dan tengah, termasuk Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, serta sebagian Yogyakarta.

“Kondisi atmosfer saat ini sangat labil dan kaya uap air akibat aktifnya monsun Asia serta suhu muka laut yang hangat. Hujan lebat dengan curah 80–150 mm per hari sudah terjadi di beberapa wilayah. Ini sinyal kuat untuk meningkatkan kesiapsiagaan,” ujar Dwikorita dalam konferensi pers Kesiapsiagaan Hadapi Puncak Musim Hujan 2025/2026 di Jakarta, Sabtu (01/11/2025).

Sekitar 43,8 persen wilayah Indonesia atau 306 Zona Musim (ZOM) telah memasuki musim hujan. Puncaknya diperkirakan berlangsung bertahap mulai November 2025 hingga Februari 2026, dengan periode Desember 2025-Januari 2026 menjadi fase utama yang berpotensi meningkatkan curah hujan tinggi di berbagai daerah.

Dwikorita juga mengingatkan masyarakat, terhadap meningkatnya aktivitas siklon tropis di perairan selatan Indonesia pada November ini yang dapat memicu hujan sangat lebat, angin kencang, dan gelombang tinggi di pesisir Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.

Lebih lanjut, Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, menambahkan bahwa La Nina lemah telah mulai terbentuk, meski tidak berdampak signifikan terhadap peningkatan curah hujan nasional.

Fenomena atmosfer aktif seperti Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Rossby dan Kelvin, serta suhu muka laut yang hangat di perairan Indonesia menjadi faktor utama pemicu meningkatnya curah hujan.

Sebagai langkah antisipasi, BMKG bersama BNPB dan TNI AU melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di wilayah rawan bencana, termasuk Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Yogyakarta. Operasi ini bertujuan mengurangi intensitas hujan ekstrem di daerah rentan banjir dan tanah longsor.

BMKG mengimbau masyarakat untuk terus memantau pembaruan informasi cuaca melalui aplikasi InfoBMKG, yang menyediakan prakiraan berbasis lokasi hingga peringatan dini cuaca ekstrem tiga jam sebelum kejadian. (AS)

Sumber: (bmkg.go.id)

Share

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *