Distanak Kukar Siapkan 10 Hektare Lahan Untuk Meningkatkan Produksi Jahe

Distanak Kukar Siapkan 10 Hektare Lahan Untuk Meningkatkan Produksi Jahe.

Kutai Kartanegara, Kaltimedia.com – Untuk meningkatkan produksi jahe dari pabrik Rumah Pengolahan Bersama (RPB), Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kutai Kartanegara (Kukar), telah menyiapkan seluas 10 hektare lahan di Desa Jonggon Jaya, dan Margahayu.

“Tahun ini kita alokasikan 10 hektare untuk pengembangan, tapi kita juga perlu menghitung dulu, dalam satu hari perlu berapa, jadi satu bulan perlu berapa, apakah cukup dari daerah Jonggon dan sekitarnya,” kata Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Holtikultura (TPH) Distanak Kukar, Sugiono saat dikonfirmasi, Kamis (25/5/2023).

Sugiono mengaku dalam proses pengembangan kawasan pertanian jahe, akan lebih dulu mencari tahu jenis jahe apa yang akan dibutuhkan oleh RPB. Agar kedepannya tanaman yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan pabrik.

“Ini harus kita koordinasikan dulu antara pihak pengelola RPB, dan petani jangan sampai ada miskomunikasi, termasuk juga jenis jahe yang dibutuhkan,” sambungnya.

Meski telah disiapkan, Sugiono mengaku pihaknya belum melakukan penanaman. Sebab, dirinya merasa perlu sinkronisasi terlebih dahulu dengan pihak pengelola RPB.

Hal ini dinilainya penting, mengingat masa panen tanaman jahe bisa dikatakan cukup lama, yaitu memakan waktu 8 – 9 bulan untuk siap dipanen oleh petani.

“Artinya jika sudah terkoordinasi, paling tidak kita bisa atur skala prioritasnya jadi tidak terputus. Lahan yang sudah kita siapkan 10 hektar ini, nantinya akan kita jadikan kawasan pengembangan dan percontohan, jadi pusatnya (Pertamina Jahe) ada di Jonggon Jaya dan Margahayu, karna kan berdekatan. Dan lagi memang Jonggon itu bisa dibilang identik dengan jahe,” jelasnya.

Dengan kehadiran RPB di Desa Jonggon Jaya ini, Sugiono berharap mampu menjaga kestabilan harga jual jahe para petani.

“Sekarang kan harga jahe lima ribu sampai 6 ribu, itu tidak dipanen oleh petani. Karena jika dipanen mungkin hasilnya tidak cukup untuk biaya panen, padahal kalo dulu waktu harganya bagus, petani di sana (Jonggon-red) bisa beli motor bahkan mobil dari hasil panen jahe. Kemudian selain harga kami juga berharap lahan pertanian di sana itu tidak dialihfungsikan,” pungkasnya.

Share

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *