Kerugian Bencana Sumatra Tembus Rp32–68 Triliun, Ekonomi Nasional Terancam Melambat

Gambar saat ini: Foto: Ribuan kayu gelondongan yang terseret banjir bandang di Sumatra. Sumber: Istimewa.
Foto: Ribuan kayu gelondongan yang terseret banjir bandang di Sumatra. Sumber: Istimewa.

Jakarta, Kaltimedia.com – Bencana banjir bandang dan longsor yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat menelan biaya ekonomi besar. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat hingga 4 Desember 2025, korban meninggal mencapai 776 orang, ratusan masih hilang, serta puluhan ribu rumah dan fasilitas umum rusak.

Tim ekonom Bank Mandiri memperkirakan kerugian negara akibat bencana ini mencapai Rp32,6 triliun, dengan sekitar 50 persen berasal dari Aceh sebagai wilayah terdampak terparah.

“Kalau estimasi awal kami, roughly dari data yang ada, dampak banjir bandang di tiga provinsi itu sekitar Rp32,6 triliun,” kata Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro, Rabu (3/12/2025).

Bank Mandiri juga memproyeksikan bencana tersebut berpotensi memangkas pertumbuhan ekonomi nasional 0,08–0,12 persen poin, dari proyeksi awal kuartal IV 2025 sebesar 5,1 persen.

Sementara itu, Center of Economic and Law Studies (Celios) mencatat kerugian yang jauh lebih besar, yakni Rp68,67 triliun. Estimasi tersebut mencakup kerusakan rumah, infrastruktur, hilangnya pendapatan warga, hingga terhentinya produksi pertanian.

“Secara nasional, terjadi dampak penurunan Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai Rp68,67 triliun atau setara 0,29 persen,” ujar Direktur Eksekutif Celios, Bhima Yudhistira.

Bhima menegaskan, nilai kerugian ini jauh melampaui penerimaan negara dari sektor tambang dan sawit. Di Aceh, misalnya, total PNBP tambang hanya Rp929 miliar, sementara kerugian bencana diperkirakan mencapai Rp2 triliun lebih.

“Bencana ekologis dipicu oleh alih fungsi lahan karena deforestasi sawit dan pertambangan,” tegas Bhima.

Pemerintah sendiri mengaku belum menghitung total kerugian ekonomi. Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan target pertumbuhan ekonomi belum direvisi, sementara Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengakui bencana berpotensi menekan pertumbuhan kuartal IV, meski diperkirakan masih di atas 5,5 persen (yoy).

Pemulihan infrastruktur dan percepatan rehabilitasi dinilai menjadi kunci untuk menahan dampak ekonomi lanjutan dari bencana tersebut. (Ang)

Share

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *