Negara Ini Terancam Tenggelam, Ribuan Warganya Kabur ke Australia

Foto: Momen menteri Tuvalu pidato di laut saat air surut pada 2021 lalu. Sumber: (via reuters/Tuvalu Foreign Ministry/cnnindonesia/isa/dna)

Samarinda, Kaltimedia.com – Kepanikan melanda negara kecil di Samudra Pasifik, Tuvalu. Saat air laut terus naik dan menggerus daratan, ribuan warga negeri atol ini memilih angkat kaki dan mencari selamat ke Australia.

Tuvalu, negara kepulauan dataran rendah dengan sembilan terumbu karang berbentuk cincin yang mengelilingi sebuah laguna di tengahnya (atol karang), kini berada di ambang hilang dari peta dunia. Dua atol bahkan sudah nyaris lenyap ditelan gelombang. 

Para ahli memperingatkan, dalam 80 tahun ke depan, sebagian besar wilayah Tuvalu tidak lagi bisa dihuni karena erosi dan genangan air laut yang kian parah, sebagaimana dimuat International Business Times Juni lalu.

Dalam upaya mencari masa depan yang lebih aman, warga Tuvalu berbondong-bondong mengajukan pindah ke Australia. 

Negeri Kanguru itu memang membuka jalan melalui perjanjian Climate and Migration Agreement yang diteken pada 2024. Kesepakatan tersebut membuka peluang bagi warga Tuvalu untuk belajar, bekerja, dan tinggal di Australia sejak Juli 2025.

Namun, keterbatasan kuota menjadi hambatan besar. Dari total sekitar 9.000 penduduk Tuvalu, lebih dari 3.000 orang telah mengajukan visa, sementara kuota yang tersedia hanya 280 orang per tahun. 

Hingga kini, belum ada kepastian apakah Australia akan memperbesar jumlah penerimaan migran dari Tuvalu yang terancam kehilangan tanah airnya tersebut.

Selain ancaman tenggelam, Tuvalu juga menghadapi krisis ekonomi yang kronis. Negara ini hampir tidak memiliki sumber daya alam dan infrastruktur industri yang memadai.

Pertanian dan perikanan menjadi tumpuan hidup utama, meski keduanya rentan terhadap perubahan iklim. Akibatnya, Tuvalu sangat bergantung pada bantuan luar negeri untuk menjaga layanan dasar tetap berjalan. 

Gambaran betapa seriusnya situasi Tuvalu pernah tergambar dalam momen ikonik tahun 2021 lalu, ketika Menteri Luar Negeri Tuvalu menyampaikan pidato di tengah laut saat air surut – simbol nyata negara yang tengah berjuang melawan waktu dan gelombang.

Kini, perjuangan Tuvalu bukan hanya mempertahankan wilayahnya, tetapi juga martabat sebuah bangsa yang bisa saja menjadi negara pertama di dunia yang lenyap akibat krisis iklim. (AS)

Sumber: (cnnindonesia.com/isa/dna)

Share

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *