Evaluasi PPDB 2024, Disdikbud Samarinda Terapkan Sistem Terbaik Penerimaan Calon Siswa

Ilustrasi

KALTIMEDIA.COM, SAMARINDA – Permasalahan yang kerap kali terjadi jelang tahun ajaran baru, yakni terkait ketidaktahuan siswa maupun orang tua soal sistem zonasi dan karena Ketua RT (Rukun Tetangga) prioritas atau bina lingkungan.

Semestinya, bagi yang berdomisili dekat dengan sekolah maka pendaftar tidak perlu lewat zonasi umum. Akan tetapi, siswa dapat mendaftar khusus melalui RT (Rukun Tetangga) prioritas atau bina lingkungan.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Samarinda, Asli Nuryadin, menerangkan terkait evaluasi PPDB tahun 2024 ini.

“Setiap tahun ada, dengan tim khusus saja kita selalu ada masalah walaupun kecil, karena mau kita buat seperti apapun pasti ada keluhan. Sebabnya masyarakat kebanyakan senang ke sekolah negeri walaupun sekolah swasta kami anggap mitra,” tuturnya pada Rabu, (13/3/2024).

Hal ini disebabkan oleh banyaknya minat yang terjadi pada sekolah yang memang menjadi favorit oleh calon siswa maupun orang tua siswa. Kemudian terjadi pula pada daerah yang penduduknya tidak banyak.

“Sekolah negeri ini keberadaannya tidak equivalen dengan jumlah penduduk usia sekolah suatu daerah. Contohnya SMPN 2 Samarinda, itu overload karena peminatnya banyak. Tapi SMPN 43 di Loa Hui itu kekurangan murid, karena penduduknya tidak banyak dan ada sekitar belasan sekolah lainnya yang kekurangan murid,” paparnya.

Menanggapi perihal murid yang tidak masuk kawasan zonasi, tetapi tetap masuk di sekolah tujuannya. Asli menerangkan bahwa hal tersebut tidak keliru di karenakan semuanya melalui regulasi dan ada syarat dan ketentuan yang berlaku.

“Sistem ini saya anggap terbaik, karena anak yang pandai punya prestasi akademik dan non akademik dia boleh memilih sekolah, misalkan dia anak Palaran ingin sekolah ke SMPN 2 boleh saja, terus anak yang tidak mampu, afirmasi, diberi kesempatan. Anak guru juga diberi kesempatan, anak para pejabat kita yang rentan orang tuanya pindah, itu juga diberi fasilitas. Nah yang besar itu zonasinya,” jelasnya.

“Sebenarnya tidak berbeda dengan bina lingkungan, hanya saja sekarang namanya zonasi tapi zonasinya sekarang banyak,” sambungnya. (As)

Share

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *