
TOKYO, KALTIMEDIA – Generasi (Gen) Z di Jepang belakangan ramai-ramai menyerbu kursus tersenyum berbayar. Lonjakan jumlah peserta kursus ini dikarenakan semakin banyak warga ingin membiasakan diri menampilkan wajah tersenyum mereka saat tanpa masker. Diketahui, Jepang telah mencabut syarat penggunaan masker sejak Maret 2023.
Tingginya minat Gen Z untuk mengikuti kursus tersenyum tersebut salah satunya terlihat di tempat kursus Keiko Kawano, dikutip dari Reuters. Lebih dari selusin siswa sekolah seni Tokyo memegang cermin di depan wajah mereka, kemudian menarik kedua sudut mulut mereka ke atas menggunakan jari-jari mereka. Di depan cermin itu, mereka sedang berlatih cara tersenyum.
Salah seorang siswa bernama Himawari Yoshida (20) mengatakan, alasan mengikuti kursus tersenyum ini untuk persiapan menghadapi pasar kerja.
“Saya tidak banyak menggunakan otot wajah saya selama Covid-19, jadi ini latihan yang bagus,” kata Yoshida. Perusahaan tempat Kawano bekerja, Egaoiku, telah mengalami lonjakan permintaan lebih dari empat kali lipat dibanding tahun lalu. Kawano sendiri adalah instruktur senyum terpercaya yang sudah memiliki banyak murid.
Untuk mengikuti kursus tersenyum selama satu jam, peserta harus membayar 7.700 yen atau lebih dari Rp800.000. “Pelajaran senyum khas dimulai dengan memeriksa senyum Anda saat ini,” kata Kawano, dikutip dari Insider. Selanjutnya, Kawano akan mengajari murid-muridnya bentuk senyuman yang dia sebut sebagai “senyum Hollywood”.
Ciri khas dari senyum Hollyywood ini mulai dari menunjukkan mata bulan sabit, pipi bundar, dan membentuk tepi mulut menjadi seperti mutiara berbaris. Kawano percaya bahwa secara budaya, orang Jepang mungkin kurang senyum daripada orang Barat karena rasa aman mereka sebagai negara kepulauan dan sebagai negara kesatuan.
Bagi mereka yang ingin menjadi pelatih senyum sepertinya, Kawano juga menawarkan lokakarya pelatihan satu hari seharga 80.000 yen atau sekitar Rp 8,5 juta. Sebuah jajak pendapat oleh penyiar publik NHK pada bulan Mei menunjukkan 55 persen orang Jepang mengaku masih memakai masker layaknya dua bulan sebelumnya.
Hanya 8 persen warga saja yang mengatakan mereka telah berhenti memakai masker sama sekali. Hal ini menujukkan, banyak warga khususnya wanita muda sangat terbiasa dengan masker, sehingga mereka mungkin merasa tidak percaya diri jika melepasnya.





