
Kaltimedia.com, Samarinda – Kekerasan terhadap perempuan dan anak tidak boleh hanya dianggap sebagai statistik dalam laporan tahunan.
Wakil Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Sri Puji Astuti, meminta peran aktif masyarakat dalam mendeteksi dan mencegah kekerasan sejak awal.
Menurut Puji, keberanian korban maupun saksi untuk melapor adalah langkah krusial. Laporan ini menjadi pintu masuk bagi aparat dan lembaga terkait untuk bergerak cepat menindak kasus, sekaligus mencegah terulangnya kekerasan.
“Ada dua kemungkinan kenapa jumlah kasus tercatat meningkat. Pertama, karena laporan lebih banyak masuk. Kedua, karena mekanisme penanganan lebih optimal. Yang penting, setiap laporan harus segera ditindaklanjuti, jangan dibiarkan,” ujarnya, Selasa (19/8/2025).
Ia menyoroti bahwa perkembangan teknologi dan arus informasi global membuat kasus kekerasan dapat tersembunyi bila tidak direspons. Kekerasan yang diam-diam terjadi ibarat gunung es, terlihat sedikit di permukaan tapi menyimpan risiko besar di bawahnya.
Puji mendorong sosialisasi dan edukasi sejak dini melalui forum warga seperti Dasawisma, pertemuan RT, hingga kelompok ibu-ibu. Strategi ini diyakini mampu membuat perempuan lebih berani bersuara dan melaporkan kekerasan.
“Kepedulian warga adalah benteng pertama perlindungan. Jika tetangga atau anak-anak di sekitar kita terancam, segera ambil langkah. Jangan tunggu sampai terjadi tragedi,” terangnya.
Selain itu, Puji menekankan pentingnya memperkuat jejaring sosial di lingkungan, sehingga masyarakat dapat saling mengawasi, mendukung, dan memberikan informasi penting terkait potensi kekerasan.
Dengan adanya partisipasi aktif warga akan memperkecil risiko terjadinya kekerasan berulang, sekaligus menumbuhkan budaya saling peduli di masyarakat.
“Pencegahan tidak bisa hanya menunggu aparat bertindak. Masyarakat adalah garda terdepan untuk melindungi perempuan dan anak,” tutup Puji. (Adv/Df)





