
Cianjur, Kaltimedia.com — Menteri Kebudayaan Fadli Zon membeberkan rencana restrukturisasi Situs Megalitikum Gunung Padang di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Dalam kunjungannya ke lokasi pada Rabu (8/10/2025), ia menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen menampilkan kembali bentuk asli situs prasejarah itu, sebagaimana wujudnya pada masa lampau.
Kunjungan tersebut turut dihadiri dua arkeolog asal Kanada, Megan Gibson dan Christina, yang datang khusus untuk menyaksikan prosesi budaya dan penelitian di salah satu situs arkeologi tertua di dunia itu.
“Nanti dirapikan bagian samping yang rawan longsor. Penataan awal ini untuk memperkuat struktur punden berundak, atau piramida asli Indonesia,” ujar Fadli di lokasi, Rabu (8/10).
Menurutnya, tahap pertama penataan akan difokuskan pada teras empat dan lima, dua bagian yang paling rentan mengalami longsor atau pergeseran tanah. Bebatuan yang tertimbun dan bergeser akan dibersihkan agar pondasi asli situs kembali tampak jelas.
“Kalau sekarang masih tertutup, tapi setelah ditata ulang dan dibersihkan, akan tampak jelas struktur bangunan ini,” ucap politikus Partai Gerindra itu.
Namun, Fadli menegaskan bahwa proses restrukturisasi tidak boleh dilakukan tergesa-gesa. Tim pemugaran diminta memperhatikan kondisi cuaca dan stabilitas tanah, mengingat Gunung Padang terletak di kawasan perbukitan yang rawan longsor.
“Karena ini berada di bukit, harus hati-hati. Lihat juga musimnya, jangan sampai dilakukan saat musim hujan,” pesannya.
Ia berharap hasil penelitian dan pemugaran yang dilakukan secara berkesinambungan ini akan menyingkap wujud utuh Gunung Padang sebagai warisan arkeologi dan kebanggaan peradaban Nusantara.
“Seperti yang disampaikan Ketua Tim Arkeolog, proses ini akan terus berlanjut. Setiap hasil pemugaran akan menjadi bahan penelitian berikutnya,” tutur Fadli.
Tim peneliti disebut telah melakukan sejumlah kajian mendalam, termasuk penggalian hingga kedalaman tujuh meter di beberapa titik situs. Temuan-temuan baru itu diharapkan dapat memperkaya pemahaman tentang struktur dan usia situs yang diyakini jauh lebih tua dari peradaban Mesir Kuno.
Arkeolog Asing Kagum pada Warisan Megalitikum Nusantara
Kehadiran dua arkeolog asal Kanada, Megan Gibson (37) dan Christina, turut menarik perhatian publik dalam kunjungan kali ini. Keduanya tampak antusias mengikuti ritual budaya yang digelar saat malam bulan purnama, Selasa (7/10) hingga Rabu (8/10) dini hari.
Megan mengaku ketertarikannya pada Gunung Padang berawal dari tayangan dokumenter televisi internasional yang membahas situs tersebut. Rasa ingin tahunya membawa dia dan Christina datang langsung ke Cianjur untuk melihat proses penelitian dan pemugaran yang dilakukan tim arkeolog Indonesia.
“Pertama kali saya melihat episode tentang Gunung Padang, saya langsung tertarik. Ada sejarah masa lalu sejak zaman es, dan saya pikir tempat ini bagian dari peradaban itu. Banyak lapisan sejarah yang harus diteliti,” ujar Megan.
Ia mengaku tengah mengajukan izin penelitian resmi kepada pemerintah Indonesia untuk dapat meneliti situs itu selama satu bulan. Sembari menunggu izin, Megan dan Christina akan tinggal sementara di area Gunung Padang untuk menyaksikan proses pemugaran dan penelitian lanjutan yang menggunakan alat geofisika bawah tanah.
“Rencananya kami akan menginap selama tiga malam. Kami ingin menyaksikan langsung penelitian dengan teknologi baru untuk mengungkap struktur yang tersembunyi di bawah tanah,” kata Megan penuh semangat.
Kunjungan Menteri Fadli Zon beserta para peneliti ini menandai babak baru dalam upaya pemerintah mengangkat Gunung Padang sebagai situs peradaban dunia. Dengan sinergi para ahli arkeologi, geologi, dan budaya lintas negara, diharapkan warisan kuno di puncak Cianjur ini akan tampil kembali sebagai simbol keagungan masa silam Nusantara. (Ang)



