
Jakarta, Kaltimedia.com – Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan, menegaskan bahwa kebijakan penurunan tarif impor hingga nol persen untuk produk Amerika Serikat bukanlah bentuk “karpet merah” bagi Negeri Paman Sam, melainkan bagian dari strategi ekonomi nasional jangka panjang.
Pernyataan ini disampaikan Luhut menanggapi kritik terhadap kebijakan perdagangan yang dinilai terlalu lunak terhadap negara mitra besar seperti Amerika Serikat. Menurutnya, keputusan tersebut telah melalui kalkulasi strategis yang mempertimbangkan manfaat timbal balik bagi ekonomi Indonesia.
“Kita menurunkan tarif bukan karena tunduk, tapi karena kita melihat ini sebagai strategi untuk meningkatkan daya saing, menarik investasi, dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global,” ujar Luhut dikutip dari Tirto.id, Kamis (17/7/2025).
Luhut menjelaskan bahwa tarif ekspor Indonesia ke Amerika Serikat saat ini juga mengalami penurunan signifikan, dari sebelumnya 32 persen menjadi 19 persen. Sebagai imbal balik, Indonesia menurunkan tarif impor dari AS, bahkan hingga nol persen untuk sejumlah produk.
Kebijakan ini diklaim menghasilkan dampak positif secara ekonomi. Hasil simulasi yang dipaparkan Luhut menunjukkan: Produk Domestik Bruto (PDB) meningkat sebesar 0,5 persen, Penyerapan tenaga kerja naik hingga 1,3 persen, Kesejahteraan masyarakat meningkat 0,6 persen, dan Investasi asing langsung (FDI) meningkat 1,6 persen.
“Ini bukan soal memberikan karpet merah, tapi kita sedang memancing relokasi industri padat karya seperti tekstil, alas kaki, furnitur, dan perikanan untuk masuk ke Indonesia,” katanya.
Selain menarik investasi, kebijakan tarif nol persen ini juga diarahkan untuk mendukung program deregulasi, menurunkan biaya logistik, serta menciptakan ekosistem industri yang lebih efisien dan kompetitif.
Luhut meyakini bahwa langkah ini akan memperkuat posisi Indonesia di kancah global sebagai pusat manufaktur dan distribusi, serta meningkatkan nilai tambah produk nasional.
“Kalau kita ingin menjadi bagian penting dari rantai pasok global, maka kita harus bersikap proaktif dan adaptif terhadap perubahan dinamika ekonomi dunia,” tegasnya.
Meskipun dinilai strategis oleh pemerintah, kebijakan ini menuai kritik dari sebagian kalangan yang khawatir akan dampaknya terhadap produk dalam negeri. Namun Luhut menilai bahwa pendekatan terbuka dan terukur terhadap perdagangan internasional akan jauh lebih menguntungkan Indonesia dalam jangka panjang.
Pemerintah, lanjutnya, akan terus memantau implementasi kebijakan ini serta menyiapkan insentif dan perlindungan untuk pelaku industri lokal agar tetap kompetitif. (Ang)





